Hasil Penelitian: Semua Orang Punya Kemampuan Penyembuhan Supranatural dan Bukan Sekedar Sugestif

Kekuatan penyembuhan spiritual/supranatural itu diyakini hanya dimiliki oleh orang-orang yang aneh atau berbeda. Orang yang tidak merasa senang dengan penyembuhan semacam ini barangkali menghubungkannya dengan kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh para cenayang, dukun, perantara, orang sinting, orang-orang eksentrik, atau orang-orang yang gila karena agama.

Mereka mungkin menyangkal bahwa orang-orang biasa, termasuk diri mereka sendiri, memiliki anugerah ini. Ini membuat mereka meremehkan studi-studi ilmiah yang memperlihatkan bahwa orang biasa pun memiliki kemampuan menyembuhkan sejak lahir.

Daniel J. Benor, M.D., seorang psikiater yang bekerja di Inggris, telah mensurvei semua kajian penyembuhan supranatural yang diterbitkannya dalam bahasa Inggris sebelum tahun 1990. Ia merumuskan ‘penyembuhan spiritual’ sebagai “pengaruh sengaja dari satu orang atau lebih terhadap sistem kehidupan lain tanpa menggunakan sarana fisik yang diketahui untuk melakukan intervensi.” Penelitiannya menghasilkan 131 studi, sebagian besar menyangkut makhluk bukan manusia. Pada 56 studi ini, terdapat peluang kurang dari satu berbanding seratus bahwa hasil-hasil positif tersebut hanya disebabkan oleh kebetulan. Pada 21 studi lainnya, kemungkinan terjadinya secara kebetulan adalah antara dua dan lima berbanding seratus.

Di sini dipilih beberapa kutipan studi-studi di antara 56 kajian yang memberikan hasil-hasill signifikan. Semoga contoh-contoh tersebut akan memberi gambaran tentang ciri penelitian yang dilakukan di bidang ini.

 

Pengaruh-pengaruh Terhadap Jamur, Ragi, dan Bakteri-bakteri

Sejumlah studi telah meneliti pengaruh penyembuhan terhadap cendawan, ragi atau bakteri. Berikut adalah beberapa hasilnya.

  • 10 peserta mencoba untuk menghalangi pertumbuhan biakan cendawan di laboratorium melalui niat sadar dengan memusatkan pikiran pada biakan-biakan cendawan itu selama 15 menit dari jarak kurang lebih 1,5 yard. Biakan-biakan itu kemudian diinkubasi selama beberapa jam lagi. Dari jumlah 194 piring biakan, 151 memperlihatkan pertumbuhan.
  • Dalam suatu pengulangan studi ini, satu kelompok peserta memperlihatkan pengaruh yang sama (menghambat pertumbuhan cendawan) pada 16 dari 16  percobaan, walaupun terpisah antara 1 hingga 15 mil jauhnya dari biakan-biakan cendawan itu.
  • 60 peserta yang diketahui tidak memiliki kemampuan cenayang, merangsang secara berarti pertumbuhan biakan-biakan bakteri.
  • Dalam sebuah percobaan yang sama, dua orang penyembuh memegang sebuah botol air di tangan mereka selama 30 menit. Contoh-contoh air tersebut kemudian ditambahkan pada larutan sel-sel ragi di dalam tabung-tabung percobaan. Setelah inkubasi, jumlah karbondioksida yang dihasilkan oleh biakan-biakan ragi itu diukur, untuk menunjukkan tingkat kegiatan metabolismenya. Peningkatan-peningkatan yang secara statistis signifikan pada produksi karbondioksida telah diamati pada biakan-biakan ragi yang diberi air yang telah “mendapat perlakuan” tersebut dalam 4 dari 5 pengujian.
  • 60 sukarelawan universitas yang diketahui tidak memiliki kemampuan cenayang diminta untuk mengubah kemampuan genetis sejenis bakteri Escherichia coli, yang biasa bermutasi dari ketidakmampuan untuk melakukan metabolisme laktosa gula (laktosa negatif) menjadi mampu melakukannya (laktosa positif) dengan kecepatan yang diketahui. Para peserta itu berusaha mempengaruhi 9 tabung percobaan yang berisi biakan-biakan  bakteri – 3 mutasinya meningkat dari laktosa negatif ke laktosa positif, negatif ke laktosa positif dan 3 tabung mutasinya menurun dari laktosa negatif ke laktosa positif, dan 3 tabung tidak dipengaruhi sebagai kontrol. Hasil-hasilnya memperlihatkan bahwa bakteri-bakteri itu betul-betul bermutasi ke arah yang dikehendaki oleh para peserta tersebut.

Dari beberapa hasil studi di atas, bisa disimpulkan bahwa:

  1. Percobaan-percobaan ini mendukung pernyataan umum para penyembuh bahwa penyembuhan spiritual bekerja sama ampuhnya baik jauh maupun dekat.
  2. Berdasarkan studi-studi ini, tampaknya orang biasa mempunyai kemampuan untuk menimbulkan perubahan-perubahan biologis pada organisme-organisme hidup lainnya. Ini menunjukkan bahwa setiap orang mempunyai kemampuan-kemampuan bawaan untuk menyembuhkan, sekurang-kurangnya sampai tahap tertentu.
  3. Pengaruh-pengaruh negatif (memperlambat pertumbuhan) maupun pengaruh-pengaruh positif (mempercepat pertumbuhan) diamati dalam percobaan-percobaan di atas. Ini menampakkan kemungkinan adanya sisi gelap penyembuhan, yang bisa ditimbulkan atas kehendak peserta sendiri.
  4. Sekalipun kaum skeptis sering kali mengecam penyembuhan spiritual hanya karena pengaruh respon sugesti atau tanggapan placebo, percobaan-percobaan di atas memperlihatkan bahwa hal ini tidak mungkin benar.

 

Pengaruh-pengaruh Terhadap Sel-sel

Sel-sel kanker biasanya melekat pada permukaan wadah di mana mereka dibiakkan. Perubahan-perubahan dalam metabolisme mereka, luka, atau mati membuat mereka melepaskan diri dan mengelupas ke medium di sekitarnya. Para peneliti dapat menghitung jumlah sel-sel dalam medium itu dan dengan demikian menilai keseluruhan keadaan kesehatan biakan sel itu.

Cenayang Inggris Matthew Manning mendekatkan tangannya pada botol-botol yang berisi sel-sel kanker dan berusaha untuk menghambat pertumbuhan mereka. Ia sanggup menimbulkan perubahan-perubahan dari 200 persen hingga 1200 persen terhadap sifat-sifat pertumbuhan mereka bila sel-sel itu diperiksa sebagaimana dilukiskan di atas. Ia mempengaruhi sel-sel itu bahkan saat ia ditempatkan di ruang yang jauh dan terlindung dari pengaruh-pengaruh listrik.

Hasil dari percobaan ini membuktikan bahwa kemampuan supranatural Manning bukanlah sugestif atau placebo, karena sel-sel kanker yang dihambat olehnya adalah sel-sel dalam wadah biakan laboratorium, bukan sel-sel yang ada dalam tubuh seorang penderita kanker.

 

Pengaruh pada Tumbuhan

Dalam serangkaian percobaan yang terkenal, Dr. Bernard Grad dari Universitas McGill mempelajari cenayang Oskar Estebany, yang mengatakan ia dapat mengirimkan penyembuhannya melalui kertas, air, dan bahan-bahan lainnya. Grad merusakkan benih-benih gandum dengan merendamnya ke dalam larutan garam satu persen, perlakuan ini memperlambat laju pertumbuhan alamiah mereka. Ia menemukan bahwa pengaruh garam yang merusak itu dapat dicegah apabila Estebany memegang wadah larutan garam itu selama 15 menit.

Sebagaimana dicatat oleh Benor, “Pemberian penyembuhan melalui bahan-bahan sekunder yang tampaknya membawakan pengaruh penyembuhan itu telah dilaporkan sejak masa Alkitab. Agaknya … barangkali ada benarnya pernyataan-pernyataan itu.” Tetapi apabila penyembuhan spiritual itu mungkin, sebagaimana dinyatakan oleh banyak percobaan ini, mengapakah dukun atau penyembuh itu tidak langsung menghadapi orangnya? Mengapa menggunakan bahan-bahan sekunder sebagai “perantara?” Barangkali alasannya ada kaitannya dengan kepribadian sang penyembuh. Psikolog LeShan telah menunjukkan bahwa dukun tertentu tidak merasa enak untuk “menjadi satu” dengan orang yang disembuhkan.  Menggunakan bahan sekunder seperti air, barangkali memungkinkan para dukun itu menjaga jarak pada proses penyembuhan tersebut.

 

Pengaruh Penyembuhan atas Binatang

Banyak studi telah dilakukan untuk memastikan pengaruh-pengaruh metode penyembuhan terhadap binatang. Beberapa hasilnya diperinci di bawah ini.

  • Dalam suatu studi klasik yang sering dikutip, Dr. Bernard Grad mempelajari kemampuan Estebany untuk menyembuhkan luka operasi yang dibuat secara artifisial pada 48 tikus, dibandingkan dengan sebuah kelompok kontrol yang dilukai dengan cara yang sama (luka itu dibuat dengan membuang sepotong kulit pada punggung mereka selebar ½ inci kali 1 inci setelah diberi pembiusan). Estebany memegang sangkar-sangkar kelompok percobaan itu selama 15 menit dua kali sehari selama 14 hari. Kelompok ini sembuh secara signifikan lebih cepat daripada tikus-tikus yang dilukai tapi sangkarnya tidak dipegang oleh Estebany. Studi yang seksama ini sekali lagi mengatakan kepada kita bahwa penyembuhan tersebut bukan disebabkan oleh sugesti.
  • Dalam percobaan lain, Grad menimbulkan gondok pada tikus dengan memberi beberapa tikus makanan yang tidak mengandung yodium. Selain itu juga diberikan obat thiourasil, zat yang menimbulkan gondok. Estebany memegang sangkar-sangkar kelompok tikus selama 15 menit dua kali sehari. Tindakan ini tampaknya melindungi kelenjar tiroid tikus-tikus tersebut sehingga tidak membesar. Bila dibandingkan dengan kelompok kontrol, kelenjar-kelenjar kelompok perlakuan tumbuh lebih lambat secara menyolok daripada kelompok-kelompok kontrol.
  • Dalam percobaan berikutnya, Grad menguji pernyataan Estebany bahwa pengaruh penyembuhan dapat dikirimkan melalui bahan-bahan sekunder. Dalam sebuah perobaan mirip dengan yang diatas, Estebany memegang wol atau kapas di tangannya, kemudian wol atau kapas itu diletakkan di sangkar-sangkar tikus tersebut  selama 1 jam, pada pagi dan petang hari, enam hari dalam seminggu. Kelenjar-kelenjar gondok tikus-tikus yang menerima perlakuan ini tumbuh lebih lambat secara signifikan daripada kelompok kontrol; dan bila tikus-tikus itu dikembalikan pada makanan yang mengandung yodium, kelenjar-kelenjar tiroid mereka kembali keukuran wajar dengan lebih cepat daripada kelompok kontrol.
  • Dalam 21 buah percobaan yang dilakukan selama periode beberapa tahun, para penyembuh mencoba untuk membangunkan tikus-tikus dengan lebih cepat dari bius total mereka. Percobaan-percobaan ini semakin diperhalus. Dalam salah satu variasi hanya gambar tikus dalam percobaan itu yang diproyeksikan pada sebuah monitor televisi kepada si penyembuh di sebuah ruangan yang jauh, sementara ia mencoba untuk mempengaruhi melalui hasil-hasil yang sangat signifikan: tikus-tikus yang “mendapat perlakuan” itu bangun lebih cepat dari anestesinya. Para peneliti mampu mengidentifikasi “pengaruh yang masih melekat” secara istimewa dalam rangkaian studi ini. Mereka menemukan bahwa apabila satu sisi meja digunakan para penyembuh untuk membangkitkan tikus-tikus mereka, dan bahwa apabila para penyembuh itu kemudian disuruh pergi dan lebih banyak tikus yang dianestesi segera ditaruh di sisi meja itu, tikus-tikus itu bangun lebih cepat daripada tikus-tikus kontrol yang diletakkan pada sisi lain meja itu.
  • Dalam percobaan lain, sekelompok tikus disuntik entah dengan sejenis organisme malaria atau dengan larutan garam steril. Para pemegang tikus-tikus itu (yang diketahui tidak memiliki kemampuan penyembuhan) diberitahu bahwa suntikan tersebut berisi entah mikroorganisme “dosis tinggi” atau “dosis rendah.” Mereka juga diberitahu bahwa seorang penyembuh akan mencoba menyembuhkan beberapa tikus tertentu sedangkan yang lainnya tidak. Sebetulnya para pemegang itu dibohongi: tidak ada dosis tinggi atau dosis rendah (suntikan-suntikan malaria itu sama); dan tidak ada dukun yang diberi tugas. Dalam salah satu tahap percobaan tersebut, hasil-hasilnya cenderung ke arah harapan-harapan para pemegang tadi: tikus-tikus yang diyakini mendapat suntikan-suntikan dosis tinggi memburuk, dan tikus-tikus yang diyakini memperoleh dosis rendah membaik. Selain itu tikus-tikus yang diberi kode akan disembuhkan memang menjadi lebih baik daripada tikus-tikus yang tidak dirancang untuk tidak disembuhkan. Seharusnya tidak boleh ada perbedaan antara kelompok dosis tinggi dengan kelompok dosis rendah, sebab tidak ada perbedaan kekuatan suntikan-suntikan itu; dan seharusnya tidak boleh ada perbedaan antara kelompok yang disembuhkan dengan kelompok yang tidak disembuhkan, sebab tidak ada penyembuh. Ini membuktikan bahwa keyakinan para pemegang memiliki dampak signifikan terhadap tikus-tikus ini.

Referensi: “Healing Words”. Oleh Larry Dossey, MD. 1993

Tinggalkan Balasan