Jangan Stop ARV Karena Virusnya “Ngumpet”

Bagi yang bukan Odha, ungkapan pada judul di atas mungkin tidak ada artinya. Tapi bagi para Odha, ungkapan ini sangatlah berarti begitu dalam, karena berhubungan dengan hati nurani, kesehatan, finansial, dan masa depan. “Jangan stop ARV karena virusnya ‘ngumpet’”, adalah ungkapan menipu diri sendiri dari komunitas Odha Indonesia yang tidak ingin kehilangan penghasilan atau pengakuan.

Untuk bisa memahaminya, saya ceritakan kepada Anda pengalaman nyata di Yasar Nurma Foundation.

Minggu tanggal 1 Maret 2009, Yasar Nurma Foundation  pada saat itu kedatangan salah satu KDS dari wilayah kerja di kota Tangerang. Tujuan dari kedatangan tersebut adalah dalam rangka perkenalan dan silaturahmi dengan badan pekerja yang membawahi Odha se-wilayah Tangerang dan setelah bertukar pikiran dan pendapat mengenai hal-hal yang berkaitan dengan standar terapi Yasar Nurma (YN), KDS (Kelompok Dukungan Sebaya) tersebut merujuk 1 pasien Odha yang sudah dalam keadaan SEKARAT untuk diobati, mantan penasun dengan gejala sakit kepala, lambung terasa sakit, mual dan muntah, persendian terasa sakit,  terbaring lemah di tempat tidur, serta mengalami iritasi kulit. Odha ini sebelumnya memakai ARV.

Tanggal 2 Maret 2009, tim Yasar Nurma (YN) meluncur ke rumah calon pasien terapi tersebut untuk melihat keadaan dan kondisi yang dialaminya. Mereka diterima oleh sanak keluarga dan seorang ibu pengawas pengobatan dari posyandu wilayah. Pengobatan yang pertama dilakukan adalah akupresur, detoksifikasi, dan segala yang berkaitan dengan standar terapi YN. Disamping itu, YN juga melaporkan secara rinci ke Pembina KDS tersebut yang YN minta untuk memonitoring dan mengawasi jalannya terapi per 3 bulan pertama, sebelum tes lab 3 bulan kedepan yang telah ditentukan jadwal harinya.

Tanggal 3 Maret 2009, staff Yasar Nurma mengirimkan obat herbal dan oil ointment untuk pasien tersebut dan di HARI KETIGA pasien odha tersebut sudah bisa melakukan aktivitasnya kembali (naik motor). Wow, sungguh merupakan kemajuan yang sangat pesat dimana tiga hari yang lalu pasien dalam keadaan SEKARAT. Tim YN meminta hal-hal yang berkaitan tentang perkembangan kondisi pasien terapi tersebut untuk disampaikan kepada Pembina KDS.

Tanggal 16 maret 2009, pasien Odha tersebut datang dengan membonceng Bapaknya dengan sepeda motor untuk melakukan akupresur kedua…!?!?! Sungguh kemajuan yang luar biasa!

Dan setelah tanggal tersebut tidak ada lagi kabar dari yang bersangkutan. Aneh,… bagaimana mungkin pasien yang ketika memakai ARV dalam keadaan sekarat dan diserahkan ke Yasar Nurma Foundation telah mengalami pemulihan kesehatan yang luar biasa hanya dalam waktu 3 hari, bisa menghilang begitu saja?

Kenapa pasien tersebut tidak mau lagi mendapatkan terapi yang telah JELAS-JELAS TERBUKTI menyelamatkan nyawanya dibandingkan ARV yang gagal membuat dia pulih dari sekaratnya?

Ketika tim YN berusaha mencari tahu jawabannya, meminta klarifikasi baik kepada Pembina KDS maupun Ibu petugas posyandu, mereka memberikan jawaban yang tidak jelas dan seolah tidak mau tahu, padahal ini masalah nyawa seseorang. Sungguh aneh jika pada awalnya mereka menyerahkan pasien ke YN supaya disembuhkan, tapi ketika pemulihan terjadi, sepertinya ada YANG MEMPENGARUHI pasien tersebut untuk menghilang tidak mau menemui tim YN untuk disembuhkan. Semua (pihak pasien dan KDS) seolah menghindar?!?!

Kisah nyata di atas adalah salah satu bukti dari banyak bukti lainnya yang memperlihatkan keunggulan pengobatan herbal dibandingkan ARV. Unggul dari segi alami, biaya, keamanan (tanpa efek samping), dan terlebih lagi kemanjuran.

.

Takut Kehilangan Penghasilan “Memaksa” Odha untuk Tidak Meninggalkan ARV

Ya betul sekali, … takut kehilangan penghasilan adalah SALAH SATU faktor para Odha untuk tidak meninggalkan ARV. Memang dibanyak institusi atau LSM konvensional yang menangani kasus-kasus HIV/AIDS, pemberian ARV kepada para Odha diberikan secara gratis.

Tapi sesuatu yang nampak gratis ini sebenarnya tidaklah gratis sama sekali bahkan dibisniskan dengan keuntungan milyaran rupiah pertahunnya di satu kota saja.  Walaupun diberikan kepada para Odha secara gratis, tapi ARV dibeli dari perusahaan obat dengan memakai uang negara atau pajak kita.

Dalam bisnis ini, para KDS berusaha merekrut sebanyak mungkin Odha dan berusaha mewajibkan mereka untuk ikut program ARV, dan setelahnya mereka mendapat komisi dari perusahaan obat atau lembaga yang menjadi “boneka” perusahaan obat. Makin banyak Odha yang mereka ikutkan ke program ARV mereka, makin banyak pula komisi yang mereka dapatkan. Supaya tidak terkesan bisnis, istilah komisi diganti dengan donasi dan ada targetnya untuk tiap peningkatan donasi.

Tidak hanya itu saja, mereka juga memberdayakan para Odha bersangkutan untuk juga merekrut Odha lainnya supaya mengikuti program ARV. Para Odha perekrut ini juga mendapatkan komisi dari KDS (tapi tidak semua mau menerima ‘komisi’ ini, ada yang membantu secara sukarela).

Para Odha yang status HIV positifnya telah diketahui oleh masyarakat biasanya mendapatkan pengucilan atau stigma dari lingkungannya, sehingga mereka dijauhi masyarakat dan tidak mendapatkan pekerjaan. Nah, para KDS menerima para Odha yang menganggur ini  untuk bisa bekerja di tempat mereka dengan syarat Odha tersebut mau menerima program ARV dan membantu operasional mereka secara penuh.

Jika mereka menolak memakai ARV, maka KDS tidak akan mempekerjakan mereka lagi dan itu berarti mereka akan kehilangan penghasilan.

Itulah SALAH SATU sebab mengapa para Odha enggan untuk meninggalkan ARV, padahal telah jelas terbukti fisik dan tes lab bahwa pengobatan alami adalah jauh lebih unggul dan manjur dibandingkan ARV. Jika ada yang lebih unggul dari ARV, kenapa tetap memakainya?

Note: Ini hanya dialami bagi Odha yang “diberdayakan”, bukan Odha yang tidak diberdayakan.

.

Siapa Tahu Virusnya “Ngumpet” dan Malah Resistant Jika Meninggalkan ARV

Inilah salah satu alasan yang muncul ketika dari hasil lab, HIV sudah tidak terdeteksi lagi pada tubuh Odha setelah menerima pengobatan alami. Ketika memakai ARV, HIV masih terdeteksi di dalam mereka. Untuk menutup-nutupi kehebatan pengobatan alami, mereka membuat alasan ini.

Benarkah ada HIV yang “ngumpet” (sengaja bersembunyi)? Wah, jika memang benar demikian, itu berarti HIV-nya pintar. Bukankah seharusnya kita sebagai manusia tidak boleh kalah pintar dengan virus ini?! Kalau ngumpet, ya tinggal dikasih “umpan” saja supaya terpancing keluar. Virus tidaklah mungkin bisa membedakan mana umpan dan mana bukan umpan. Ia tidak mungkin sepintar itu! Ya ampun…, alasan “ngumpet” ini benar-benar membuat kami para praktisi holistik modern jadi tertawa!

Bagaimana dengan resiko virusnya akan makin resistant (makin kebal), jika Odha menghentikan ARV?

Virus atau bakteri, tidak akan resistant selama mendapatkan pengobatan alami. Inilah keunggulan pengobatan alami dibandingkan pengobatan kimia. Justru sejarah membuktikan bahwa obat kimia yang sering diberikan lama kelamaan membuat virus atau bakteri jadi tambah resistant. Jadi walaupun Anda tetap memakai obat kimia, cepat atau lambat, virus atau bakteri akan tetap resistant. Merupakan tindakan yang tidak bijkasana dan sia-sia jika Anda mempertaruhkan kesehatan Anda pada ARV yang masih kalah JAUH dibandingkan pengobatan alami.

.

Mengapa Holistik Modern Menentang ARV

Alasan mengapa holistik modern menentang ARV bukan karena masalah persaingan bisnis atau takut kehilangan penghasilan. Bukan! Alasannya adalah karena masalah hati nurani dan ketidakmasukakalan!

Seperti yang sudah saya katakan di atas, jika telah terbukti bahwa pengobatan alami lebih manjur, buat apa kita memerlukan pengobatan lainnya yang kalah manjur? Adalah tidak masuk diakal jika kita memilih sebaliknya!

Disamping itu, apakah bisa dikatakan suatu tindakan yang benar dan suatu tindakan kasih jika kita tetap menawarkan sesuatu yang sebenarnya memiliki efek samping “mematikan”, apalagi jika diberikan SEUMUR HIDUP kepada SESAMA kita? Bukankah kita telah memberikan RACUN pada tubuh BERHARGA mereka? Bukankah ini sama saja dengan tindakan PEMBUNUHAN secara tidak langsung? Apalagi jika dibisniskan, bukankah ini sama saja dengan menjual NYAWA mereka?

Jika pengobatan kimia ini memang TERBUKTI lebih manjur dibandingkan alam ciptaan Tuhan dan tanpa efek samping, serta tidak sampai mencelakakan nyawa seseorang, tentu kami para praktisi holistik modern tidak akan menentangnya.

Sama halnya dengan BPOM melawan penjualan daging glonggongan, penjualan makanan kadaluarsa, dan melawan jamu yang mengandung zat penyebab sakit jantung, begitu juga dengan holistik modern menentang ARV yang berbahaya ini.

Kami para praktisi holistik modern memberikan pernyataan bahwa, ARV bukanlah terapi yang meningkatkan kualitas hidup para Odha!

.

Alasan yang Menipu Diri Sendiri

Penyataan “nanti virusnya ngumpet”, “nanti resistant lho”, adalah ungkapan yang menipu diri sendiri. Bagi para KDS, mereka menolak untuk menghentikan program ARV adalah karena mereka TAKUT KEHILANGAN PENGHASILAN mereka. Sama juga dengan para Odha yang diberdayakan, mereka juga takut kehilangan pekerjaan dan pengakuan dari lingkungan KDS yang menerima mereka.

Sungguh tragis, keputusan mereka ini adalah suatu keputusan yang sama saja dengan menjual hidup dan hati nurani mereka demi sejumlah materi yang hanya mereka bisa nikmati untuk sesaat. Hasil terburuknya adalah mereka makin banyak membawa Odha lainnya untuk sama-sama jatuh ke dalam lubang “maut” yang sama.

.

Kenapa Pro AIDS Keras Kepala dengan Pandangan AIDS Tidak Bisa Disembuhkan!?

Seperti yang saya katakan sebelumnya…, AIDS adalah BSNIS MAHA BESAR. Kenapa demikian? Karena:

  1. AIDS adalah penyakit yang paling ditakuti dan dikenal paling ganas.
  2. Ketakutan ini melanda SELURUH DUNIA.
  3. Ada penyakit berarti perlu obat untuk mengatasinya. Ini berarti ada peluang untuk menjual obat. Apalagi pasarannya seluruh dunia.
  4. Makin menakutkan suatu penyakit, makin besarlah “rasa butuh” dunia akan solusinya, dan makin banyaklah permintaan akan obat.
  5. Tapi jika menjual obat yang MENYEMBUHKAN, keuntungan akan kurang maksimal. Jauh lebih menguntungkan menjual obat YANG SEKEDAR MERAWAT APALAGI PUNYA BANYAK EFEK SAMPING. Untuk mengatasi efek samping itu, masyarakat perlu beli obat lainnya lagi dan semua obat itu juga tidak menyembuhkan.

Apakah Anda sudah melihat “polanya”?

Selain pola di atas, para ahli, ilmuwan, dan pengusaha pro AIDS akan menolak pandangan AIDS denialist adalah karena masalah kehormatan, kedudukan, dan kekuasaan. Mereka akan kehilangan semua itu jika beralih ke AIDS denialist. Mereka makan dan hidup dari menjual AIDS, bukan menyembuhkan AIDS!!!

Nah itulah sebabnya para pro AIDS dengan keras menolak bahwa AIDS bisa disembuhkan. Mereka sengaja menutup mata ketika melihat para praktisi holistik yang mengandalkan alam ciptaan Tuhan, berhasil menyembuhkan AIDS.

Para ilmuwan, ahli, dan pengusaha pro AIDS dengan sombongnya memberi pernyataan “tidak langsung” bahwa ARV yang adalah obat-obatan kimia buatan manusia, lebih manjur dan unggul dibandingkan herbal, diet,  dan suplemen yang adalah alam ciptaan Tuhan.

Mereka sama saja menentang Tuhan itu sendiri dengan memiliki sikap seperti itu. Dan Tuhan tidak tinggal diam sehingga kebenaran tentang AIDS pun terkuak dan makin meluas ke seluruh dunia. Hati nurani saya tidak bisa tinggal diam membiarkan hal ini terjadi, oleh karena itu saya berjuang menyebarkan kebenaran kesehatan melalui Healindonesia.

Percayalah pada CARA Tuhan, bukan pada cara manusia. Milikilah pola pikir obyektif yang tidak mudah terpengaruh oleh pengaruh para penguasa, pandangan masyarakat luas, atau mayoritas.

Milikilah pola pikir yang interdependen, bukannya independen yang tidak perlu orang lain, dan juga bukan dependen yang mengandalkan orang lain.

Baca juga: Tips Mengobati HIV/AIDS dengan Minyak Kelapa Murni

Belajarlah dari sejarah bahwa pandangan mayoritas tidak selalu benar. 

Hidup Anda terlalu berharga dan singkat untuk diperbudak kebohongan!

Dt Awan (Andreas Hermawan)


Tinggalkan Balasan