Jika Benar HIV Tidak Ada, Mengapa Banyak Odha yang Meninggal?

Jika memang HIV itu tidak ada, mengapa banyak Odha yang meninggal dunia? Pertanyaan ini sering dilontarkan oleh orang-orang yang belum memahami pandangan AIDS Denialist (golongan yang mengatakan bahwa HIV itu tidak ada dan bukan penyebab AIDS). Dan jawaban saya, serta para ahli medis holistik lainnya adalah para Odha meninggal karena:

  1. Penyakit umum yang berat, misal: pneumonia, TBC, kanker, kerusakan liver dan ginjal.
  2. Depresi berat karena stigma yang ada dan tidak tahan menanggung beban psikis menderita penyakit maut dan ‘memalukan’.
  3. Efek samping ARV yang muncul bertubi-tubi sampai pada titik tubuhnya tidak kuat lagi menahan toksisitas ARV yang menumpuk.

 

Jika Suatu Penyakit Muncul, Jangan Langsung Berpikiran ‘Parno’

Beberapa Odha yang baru percaya bahwa AIDS bisa disembuhkan tanpa ARV, saya bekali dengan pemikiran ini.

Jika ada suatu penyakit muncul, seperti misalnya flu, masuk angin, panas dalam, sakit kepala, letih lesu, dan diare, janganlah langsung punya pikiran ‘parno’ (negatif dan berlebihan) bahwa itu pasti karena HIV yang sedang aktif menyerang. Semua gejala penyakit tadi juga ada pada penyakit umum yang tidak berkaitan dengan HIV.

Saya berikan contoh: Jika Anda bekerja terlalu berat dan sedang banyak pikiran, Anda otomatis akan merasa lelah dan sakit kepala. Dalam kondisi seperti inilah daya tahan tubuh Anda menurun. Jika dalam kondisi seperti itu Anda tidak segera minum air banyak dan tidak segera tidur untuk istirahat, Anda akan dengan mudah terserang penyakit, atau tertular sakit orang lain.

Apalagi di musim pancaroba, banyak orang akan lebih rentan menderita flu. Bahkan dalam kebanyakan kasus, orang yang salah makan atau makan kebanyakan juga bisa sakit perut dan diare.

Kondisi psikis yang begatif juga bisa membuat orang sakit. Contoh: Banyak para Ibu akan sakit kepala dan jatuh sakit jika terlalu khawatir memikirkan anaknya. Seorang suami yang baru kehilangan istri yang dicintainya juga bisa sakit bahkan meninggal dilanda duka yang mendalam.

Dan tentu saja, semua gejala atau sakit ini akan hilang tanpa HARUS memakai ARV, seperti misalnya: flu, masuk angin, dan sakit kepala diobati dengan obat alami, jaga pola makan sehat, dan istirahat cukup. Sakit perut dan diare akan hilang jika kita berhenti stress, diobati secara alami, dan jaga pola makan yang sehat.

Jadi ketika satu atau beberapa penyakit mulai muncul, saya menganjurkan para Odha pasien saya supaya jangan berpikiran parno, panic, dan terburu-terburu minum ARV. Saya menganjurkan mereka untuk konsumsi obat alami, jaga pola makan, dan istirahat cukup. Tepat seperti dugaan, penyakit-penyakit tersebut mulai mereda dan hilang, tanpa konsumsi ARV.

 

Jika Ada yang Meninggal Jangan Langsung Berpikir Karena Serangan HIV

Banyak penyakit umum yang bisa menurunkan daya tahan tubuh dan pada akhirnya menyebabkan kematian. Contoh: kanker, TBC dan pneumonia.

Dalam artikel yang dikutip dari dr. Mercola, ”Efek Samping Dari Obat AIDS ‘Tidak Berbeda’ dari AIDS Itu Sendiri”, telah menunjukkan kepada kita bahwa ARV itulah yang menjadi AIDS YANG SEBENARNYA! Sebagai contoh efek samping dari AZT (merek Retrovir atau Zidovudine) adalah: Asthenia, sakit kepala, rasa tidak enak badan, Anorexia, sembelit, mual, muntah, sakit perut, arthralgia, meriang, maag, letih lesu, insomnia, otot sakit, neuropathy, hyperbilirubinemia, hepatomegaly, stomatitis, splenomegaly, batuk, gatal-gatal pada kulit, infeksi telinga, lymphadenopathy, anemia, serangan jantung, edema, hematuria, gugup, berat badan turun, sakit punggung, sakit dada, flu, cardiomyopathy, syncope, gynecomastia, mulut kering, dysphagia, perut kembung, Aplastic anemia, hemolytic anemia, leukopenia, lymphadenopathy, pancytopenia, hepatitis, sakit kuning, pancreatitis, gemetar, rasa cemas, depresi, pusing, kejang, vertigo, rhinitis, sinusitis, pruritus, Stevens-Johnson syndrome, mudah berkeringat, urticaria, amblyopia, hilang pendengaran, photophobia, sering kencing, dan lain-lain (masih ada yang lainnya?!).

Dari semua efek samping yang tercantum, itu semua adalah gejala AIDS, karena ARV merusak ginjal, hati, syaraf dan organ pencernaan. Jadi Odha akan benar-benar menderita AIDS pada saat mengkonsumsi ARV. Dan jika dikonsumsi rutin sampai seumur hidup, efek samping yang dirasakan makin meningkat. Dapat dibayangkan apa yang terjadi jika tubuh Odha tidak lagi kuat dengan toksisitas ARV yang menumpuk di dalam tubuhnya. Hal ini pada akhirnya mengakibatkan kematian.

 

Ada Odha yang 10 Tahun Konsumsi ARV tapi Sehat-sehat Saja

Beberapa kali saya mendengar sanggahan, bahwa ada Odha yang lama mengonsumsi ARV bahkan 10 tahun, tapi dia sehat-sehat saja dan tidak terlihat gejala efek samping. Ini seakan-akan menjadi bukti bahwa yang membuat para Odha ini tetap sehat adalah ARV. Memang kasus-kasus seperti ini benar adanya dan tidak dibuat-buat oleh para Odha pro-ARV. Namun, perlu dipertimbangkan hal-hal berikut:

1. Apa kebanyakan Odha menunjukkan efek positif seperti ini?

Tiap orang memiliki metabolisme yang berbeda-beda, jadi jenis dan tingkat efek samping yang muncul pada Odha akan berbeda-beda. Pada kenyataannya, lebih banyak Odha pro-ARV yang memperlihatkan efek samping daripada yang tidak ada efek samping. Kasus-kasus unik seperti ini boleh dibilang jarang terjadi.

2. Sampai berapa lama tubuhnya bisa memetabolisme dengan baik ARV yang keras?

Kemampuan tubuh dalam menetralisir efek samping ARV pasti terbatas. Obat kimia itu mengobati, tapi juga merusak secara ‘slow but sure’ (pelan tapi pasti). Jadi yang terjadi bukanlah tidak ada efek samping, tapi sebenarnya belum ada efek samping.

3. Apa dia benar-benar sembuh total dengan konsumsi ARV?

Jawabannya sudah tentu tidak pernah sembuh. Konsumsi ARV tidaklah menyembuhkan. Selama Odha tidak melepaskan ARV, selama itu pula ia akan tetap diperbudak dengan jadwal ketat konsumsi ARV, mengalami efek samping, serta tetap mendapat cap sebagai Odha.

Anda mungkin sekarang bertanya-tanya, jika tanpa ARV, bagaimana caranya para Odha bisa sembuh? Jawabannya adalah:

  1. Mengedukasi diri sendiri tentang HIV/AIDS ‘yang sebenarnya’ dari jurnal dan tulisan-tulisan medis holistik.
  2. Menjaga pola makan dan gaya hidup yang sehat.
  3. Mengobati secara alami via nutrisi, suplemen, herbal, atau terapi lainnya.

Artikel ini tidak saya tulis untuk memaksa para Odha berhenti ARV. Saya menulisnya untuk memberikan pencerahan, sehingga para Odha jadi lebih waspada, dan bisa lebih bijaksana dalam mengambil keputusan pengobatan.

Baca juga: Tips Mengobati HIV/AIDS dengan Minyak Kelapa Murni

Silahkan para Odha memilih, mau tetap mengonsumsi ARV tapi tidak pernah sembuh, atau menjalani pengobatan alami sampai akhirnya sembuh? Nasib para Odha akan ditentukan oleh pilihan sederhana ini.

Healindonesia, Dt. Awan (Andreas Hermawan)

.

Tinggalkan Balasan