Mata Minus Sembuh dan Prostat Sehat Karena Buah Takokak

Mata adalah jendela dunia. Takokak membuat jendela dunia yang buram menjadi terang.

Masih segar di ingatan Eman Sulaeman kejadian saat ia duduk di bangku sekolah menengah atas di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Beberapa kali ia merasakan sesuatu tak beres di matanya. Eman kesulitan membaca tulisan menggunakan kapur di papan tulis berwarna hitam. Padahal ia sudah duduk di jejeran bangku paling depan.

Tulisan-tulisan itu seperti membayang. Khawatir kondisi itu mengganggu proses belajar, Eman berinisiatif mendatangi sebuah toko kacamata. Hasil pemeriksaan di sana menyimpulkan kedua mata Eman menderita rabun jauh. Nilainya -0,75. Pemilik toko pun menyodorkan sebuah kacamata minus yang dapat membantu penglihatan Eman lebih baik.

Jadilah sehari-hari Eman memakai kacamata. “Aktivitas saya banyak terganggu setelah memakai kacamata,” ujarnya. Harap mahfhum Eman merupakan pemain sepakbola dan voli andalan di tempat tinggal dan sekolahnya.

Untuk bermain di kedua cabang olahraga populer itu ia mesti melepas kacamata supaya alat bantu penglihatan itu tidak jatuh dan rusak. Pria kelahiran Bogor pada 1972 itu menduga boleh jadi rabun jauh yang dideritanya karena kebiasaan saat menempuh sekolah menengah pertama. “Saya suka sekali membaca sambil tiduran meski di ruang yang kurang cahaya lampu sekalipun,” ujar Eman.

Pada 2010 ayah 3 putra itu mengatakan ingin sembuh kepada pegawai toko kacamata langganan ketika memperbaiki tangkai kacamata yang patah. Pegawai toko itu pun menawari Eman memakai kacamata khusus untuk memulihkan fokus matanya setelah rabun jauhnya menjadi -2,25.

Kacamata itu terbuat dari bahan plastik dengan lensa penuh lubang-lubang kecil. ”Saat dipakai pandangan agak sedikit baik,” ujar Eman yang hanya menggunakan kacamata itu di rumah.

Seorang rekan lain justru menyarankan Eman mengonsumsi buah takokak Solanum torvum untuk memperbaiki rabun jauhnya. “Saya sedikit tahu tentang tanaman obat,” ucapnya. Toh demi mengejar kesembuhan Eman mencobanya. Sejak medio 2010 ia rutin mengonsumsi 7 buah takokak sebagai lalapan setiap kali makan.

Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Pakuan, Bogor, Jawa Barat itu juga menanam anggota famili Solanaceae itu yang belakangan ia pangkas karena duri-duri takokak dikhawatirkan mencederai anak-anaknya. Selagi mengonsumsi takokak, ia sesekali menggunakan kacamata khusus jika sedang berada di dalam rumah.

Sebulan mengonsumsi turkey berry itu, Eman mulai merasakan perubahan positif. “Penglihatan saya menjadi lebih terang,” tuturnya. Untuk memastikan perubahan itu ia bergegas mendatangi toko kacamata sekadar memeriksa. Hasilnya? Rabun jauh Eman membaik menjadi -1,75 dari semula -2,25.

Jelas itu kabar gembira. Tiga bulan setelah rutin mengonsumsi buah anggota famili terung-terungan itu, Eman mengucapkan selamat tinggal pada kacamata. “Setelah 19 tahun akhirnya penglihatan saya relatif normal tanpa kacamata,” ujar warga Desa Cibanteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, itu.

Rabun jauh

Mata minus yang dialami oleh Eman Sulaeman merupakan miopia. Miopia yang dalam bahasa Yunani berarti pandangan dekat itu adalah keadaan di mata saat cahaya atau benda yang jauh letaknya jatuh atau difokuskan di depan retina. Supaya objek atau benda jauh itu terlihat jelas atau jatuh tepat di retina, penderitanya memerlukan kacamata minus.

Menurut dr Hanny M Kartosen SpM dari Rumahsakit Islam Siti Hajar Sidoarjo, Jawa Timur, miopia merupakan jenis kerusakan mata yang disebabkan pertumbuhan bola mata yang terlalu panjang atau kelengkungan kornea yang terlalu cekung. “Penderitanya akan sulit melihat jauh,” ujar Hanny.

Berkaitan dengan ukuran lensa negatif dalam satuan dioptri, miopia terbagi dalam 3 klasifikasi, yakni ringan (sampai 3 dioptri), sedang (3-6 dioptri), dan berat di atas 6 dioptri. Berdasarkan klasifikasi ini Eman termasuk penderita rabun jauh ringan.

Kasus rabun jauh terus berkembang dewasa ini. Data American Optometric Association pada 2006 menyebutkan dari 148-juta penduduk negeri Abang Sam, 51% di antaranya memerlukan alat bantu untuk mengoreksi refraksi. Alat bantu itu adalah kacamata. Di Jepang, Singapura, dan Taiwan, persentase penderita rabun jauh lebih besar, mencapai sekitar 44%. Kasus rabun jauh meningkat seiring dengan pertambahan usia. Di Amerika Serikat terdapat 3% penderita rabun jauh berusia usia 5-7 tahun, 5% di usia 8-10 tahun, dan 25% di usia di atas 25 tahun.

Bagaimana dengan di tanahair? Sejauh ini belum ada data pasti mengenai jumlah kasus rabun jauh. Namun riset Agung Nugroho dari Bagian Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada bisa sedikit menggambarkan jangkauan penyakit rabun jauh di tanahair. Agung menyebutkan sekitar 26% siswa sekolah menengah pertama di DI Yogyakarta menderita rabun jauh.

Menurut dr Ma’sum Effendi SpM, dokter spesialis mata di Rumahsakit Saiful Anwar, Malang, Jawa Timur, penyebab timbulnya rabun jauh merupakan faktor genetik atau bawaan. berdasarkan riset di Australia orang tua yang mempunyai sumbu bola mata yang lebih panjang daripada normal akan melahirkan keturunan yang memiliki sumbu bola mata yang lebih panjang daripada normal pula. Membaca lebih dekat dari kondisi ideal jarak baca minimal satu siku, membaca sambil tiduran, dan menonton televisi terlalu dekat bukan pemicu rabun jauh.

“Ras Asia lebih banyak terkena karena secara genetik sudah melekat,” ujar Ma’sum. Fakta itu terungkap dari riset di negeri Kanguru yang menyebutkan ras Asia paling tinggi berpeluang terkena rabun jauh, mencapai 70-90%; orang Eropa dan Amerika hanya 30-40%, dan risiko paling rendah ras Afrika sebesar 10-20%.

Takokak

Secara kedokteran (konvensional) miopia hanya bisa di atasi menggunakan lensa atau operasi refraktif seperti laser in-situ keratomileusis (lasik). Lasik berguna untuk menata ulang kornea sehingga cahaya yang masuk melalui kornea dapat terfokus ke retina di belakang mata. Di luar itu belum ada obat atau cara manjur lain untuk memperbaiki rabun jauh itu.

Pada kasus Eman, peran buah takokak memperbaiki rabun jauh merupakan hasil pengalaman empiris. Belum ada bukti riset (konvensonal) yang mendukung temuan di lapang itu. Prof Dr Ir Ervizal AM Zuhud MS, dosen di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Institut Pertanian Bogor dalam Laporan Akhir Pengembangan Kampung Konservasi TOGA di Desa Cibanteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, pada 2009 menyebutkan takokak bisa menormalkan lensa mata. Itu berdasarkan pengalaman 2 penduduk desa yang rutin mengonsumsi buah takokak muda setiap hari. “Mereka mengonsumsi 7-10 buah setiap hari selama 2 bulan,” kata Ervizal.

Ervizal menduga takokak memiliki kandungan vitamin A tinggi. Kandungan tinggi itu mirip pada wortel Daucus carota. Fungsi vitamin A adalah menjaga fungsi retina mata. “Vitamin A menjaga rod dan cone (reseptor atau penerima pada retina),” ujar dr Ma’sum Effendi SpM.

Riset oleh Perez Amador dan rekan dalam International Journal of Experimental Botany menyebutkan, takokak berlimpah alkaloid. Jumlahnya mencapai 12% bobot kering. Dengan kadar alkaloid sebesar itu penelitian lain oleh Ashok D Agrawal dan rekan dari Shree Sureshdada Jain Pharmaceutical Education and Research Center di India menyebutkan takokak mujarab sebagai obat herbal antihipertensi, antioksidan, antiplatelet, memperlancar berkemih, analgesik atau penghilang rasa sakit, dan antimikroba. Tidak ada kesimpulan menyinggung manfaatnya untuk mata.

Penelusuran dalam buku Tumbuhan Berguna Indonesia karangan K. Heyne dan Prosea (Plant Resource of South East Asian) menunjukkan hal serupa. Heyne menyebutkan terung pipit-sebutan di Sumatera-sebagai sayuran yang dikonsumsi. Di Prosea buah takokak dimanfaatkan selain sebagai sayuran juga obat penawar gigitan ular dan serangga (India) serta mengatasi gangguan di lambung. China sebagai kiblat obat tradisional dunia memakai takokak Solanum torvum untuk mengatasi penyakit berkaitan dengan peredaran darah dan pusing.

Oleh sebab itu menurut Ervizal perlu penelitian lebih jauh untuk mengetahui pemanfaatan takokak dalam membantu menyembuhkan rabun jauh seperti dialami Eman. Itu demi sahih takokak menerangi jendela dunia. (Dian Adijaya S/Peliput: Riefza Vebriansyah dan Rona Mas’ud)

Prostat Sehat Berkat Takokak

Bagi Prof Dr Ir Ervizal AM Suhud MS takokak menyuguhkan manfaat penting lain. Pakar konservasi dan budidaya tanaman obat dan langka itu terlepas dari derita akibat pembengkakan prostat setelah rutin mengonsumsi buah tanaman anggota famili terung-terungan itu. Ervizal mengidap pembesaran prostat pada 2007 yang membuatnya sulit berkemih. Rasa sakit akibat penyakit itu pun menyulitkan ia beraktivitas.

Ervizal lalu mengonsumsi 10-15 buah buah takokak setiap kali makan. Dosen di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB itu mengonsumsi takokak segar sebagai lalapan atau diolah menjadi sayur. “Ide itu datang dari informasi kolega bahwa keluarga Solanaceae seperti tomat bisa membantu menyembuhkan prostat,” katanya. Tomat mengandung likopen yang dipercaya membantu mengatasi masalah prostat. Hasilnya sungguh menggembirakan. Setelah 3-4 hari mengonsumsi terung pipit, Ervizal mulai lancar berkemih.

Pengalaman terbebas dari derita sulit berkemih itu Ervizal tularkan kepada masyarakat di tiga desa di seputar Institut Pertanian Bogor (IPB) yakni Desa Cikarawang, Desa Cibanteng, dan Desa Benteng pada 2010. Beberapa warga langsung mencoba resep itu dan terbukti manjur. Riset Ashok D Agrawal dan rekan dari Shree Sureshdada Jain Pharmaceutical Education and Research Center di India menyebutkan salah satu khasiat takokak adalah memperlancar berkemih.

Menurut Ervizal upaya pengembangan tanaman obat (TOGA) yang selama ini belum terekspos menjadi penting untuk menjaga keragaman plasma nutfah seiring kemudahan masyarakat memperoleh obat modern. “Takokak adalah salah satu jenis yang mesti dikonservasi,” ujar pengagas Kampung Konservasi TOGA itu. (Dian Adijaya S/Peliput: Rona Mas’ud)

Referensi: https://www.trubus-online.co.id/selamat-tinggal-kacamata-minus/

Tinggalkan Balasan