Mitos HIV Sekitar Viral Load dan Sel T


ADA APA DENGAN VIRAL LOAD?

Satu masalah serius dengan hipotesis HIV/AIDS adalah para peneliti tidak sanggup menemukan cukup HIV (virus aktual) pada orang-orang yang positif HIV untuk bisa menjelaskan adanya suatu masalah kesehatan. Bahkan diantara para pasien yang paling parah gejala AIDS-nya, HIV tidak pernah bisa terdeteksi secara kuantitas (jumlah aktual) sehingga bisa menyebabkan habisnya sel-sel kekebalan tubuh. [70]

Supaya benar-benar membahayakan, suatu virus harus menginfeksi setidaknya sepertiga dari semua sel-sel target, dimana pada kasus AIDS yaitu sel T dari sistem imun yang menjadi targetnya, kemudian menghancurkan sel T ini dengan cepat sebelum sel T tersebut diganti lagi dengan yang baru.

Sebagai contoh, hepatitis atau demam dan flu biasa, virus penyebab penyakit-penyakit bersangkutan bisa ditemukan dalam kuantitas dengan ukuran jutaan atau miliaran per milliliter (mL) darah, dan tidak ada yang sanggup menghentikan virus tersebut menginfeksi semua sel dalam tubuh kecuali imunitas antiviral. Pada kasus AIDS, rata-rata hanya ditemukan 10 HIV per mL dalam darah, dan tanda normal imunitas antiviral serta antibody yang ada, dianggap sebagai tanda-tanda bahwa orang itu sakit. [71]

Ketidakkonsistenan lainnya mengenai pernyataan bahwa HIV merupakan penyebab AIDS adalah HIV tidak bisa meracuni dan membunuh sel (non-cytotoxic). Ini berarti ketika HIV bereplikasi, ia tidak membunuh sel inang. Virus lainnya yang menyebabkan penyakit merupakan penghancur sel (cytotoxic). Mereka menghancurkan sel yang mereka infeksi ketika mereka hendak bereproduksi dan dengan cepat menyerang 30-60% sel target lainnya. Ketika pernyataan HIV penyebab AIDS diterima sebagai fakta di tahun 1984, para peneliti AIDS telah mengemukakan sejumlah hipotesis mengenai kemampuan HIV dalam menimbulkan kerusakan sel secara rinci tapi masih belum bisa membuktikan mekanismenya dan tidak bisa menjelaskan bagaimana suatu virus yang non-cytotoxic sanggup melenyapkan sel T dan menyebabkan AIDS.

Hampir selama satu dekade, dugaan laten (ada tapi tidak terlihat tanda-tandanya) digunakan untuk membenarkan beberapa pernyataan yang berlawanan mengenai AIDS. Para ahli mengklaim bahwa HIV merupakan virus lambat yang tetap tidak aktif atau laten selama beberapa waktu tertentu sebelum akhirnya ia menjadi aktif dan menghancurkan sel-sel imun. Pernyataan ini diterima oleh semua orang tanpa menghiraukan fakta bahwa kuantitas HIV aktual yang aktif tidak ditemukan bahkan pada penderita AIDS dengan gejala akut. [72]

Benang putus pada hipotesis AIDS akhirnya “dianggap” telah tersambung di tahun 1995 dengan 2 laporan hasil penelitian dari satu tim peneliti AIDS yang dipimpin oleh Dr. David Ho dari Aaron Diamond Research Center, dan Dr. George Shaw dari University of Alabama. Ho dan Shaw menawarkan penjelasan yang mereka sebut sebagai bukti tak terbantahkan bahwa HIV telah aktif sejak terjadinya infeksi dan hadir dalam kuantitas yang cukup untuk menimbulkan kehancuran sel T secara besar-besaran. [73] Mereka mengklaim telah menemukan rata-rata lebih dari 100.000 HIV per mL dalam darah para pasien AIDS dengan menggunakan metode perhitungan virus berdasarkan teknologi baru Polymerase Chain Reaction (PCR).

Laporan mereka menyatakan bahwa HIV selalu ada dan aktif dalam kuantitas (jumlah) yang sangat banyak, tapi kehadiran dan keaktifannya tidak bisa diukur dengan cara standar, dan para ilmuwan tersebut mencari-cari kesalahan sebagai tolak ukurnya.

Sampai tahun 1995, metode untuk menemukan dan menentukan jumlah suatu virus adalah dengan cara mengisolasi virus bersangkutan. Metode yang langsung dan sederhana ini telah sukses diterapkan ke setiap virus KECUALI HIV. Sebagai gantinya, penganjur hipotesis viral load menyarankan para ilmuwan untuk mencari fragmen materi genetik ketimbang mengisolasi virus HIV (memanipulasi kultur lab).

PCR adalah suatu teknik inovatif yang membuat para ilmuwan bisa mengambil sampel darah yang mengandung sejumlah molekul DNA atau RNA yang tak terdeteksi dan mendeteksi kuantitas fragmen dari molekul aslinya. Majalah Forbes menjabarkan PCR sebagai “versi bioteknologi dari mesin photo copy Xerox.”   Dr. Kary Mullis, yang memenangkan Penghargaan Nobel untuk penemuan yang revolusioner ini menjelaskan bahwa, “PCR memungkinkan kita untuk mengidentifikasi sebuah jarum dalam tumpukan jerami dengan cara mengubah jarum menjadi tumpukan jerami.” [74] Sementara PCR telah menyediakan suatu alat baru yang efektif bagi dunia ilmu pengetahuan dan industri, penerapannya kepada penelitian AIDS malah justru menyesatkan ketimbang bermanfaat.

Ho dan para peneliti lainnya menerapkan PCR untuk mencari, bukan HIV, tapi fragmen RNA, yaitu materi genetik pada inti virus. Menggunakan logika bahwa tiap partikel virus HIV mengandung dua RNA HIV, mereka mengasumsikan bahwa tiap dua potongan RNA yang terindikasi oleh PCR pasti berhubungan dengan satu partikel virus HIV, dan mereka menyebut penghitungan dari hasil test tersebut sebagai “viral load”.

Viral load telah dielu-elukan oleh media massa sebagai terobosan mutakhir dalam penelitian AIDS dan telah memenangkan berbagai penghargaan bagi Dr. David Ho termasuk penghargaan Man of the Year tahun 1996 dari majalah Time. Viral load juga menjadi ukuran dimana obat baru AIDS dianggap efektif. Protease inhibitor diijinkan dipakai sebagai obat, berdasarkan semata-mata pada kemampuannya “yang dianggap” bisa mengurangi viral load. Media massa, organisasi-organisasi AIDS, dan kebanyakan dokter-dokter AIDS menerima begitu saja hipotesis viral load sebagai fakta.

Berdasarkan hipotesis viral load, miliaran HIV sibuk menginfeksi sel-sel T CD4 tiap harinya dari awal seseorang terinfeksi, dan pembunuh sel imun terus menerus menghancurkan miliaran sel CD4 yang terinfeksi, sementara CD4 baru yang tidak terinfeksi  dengan cepat juga mengganti sel-sel mati yang ada. [75] Kemudian, sesudah satu sampai 15 tahun dalam peperangan mikroskopik ini, virus HIV akhirnya menang atas sistem imun sehingga menimbulkan gejala penyakit AIDS. Para penganjur hipotesis viral load mengklaim bahwa alasan aktivitas menakjubkan ini tidak pernah diketahui sebelumnya adalah karena CD4 bereplikasi dengan sangat cepat, sehingga hanya sedikit HIV yang menginfeksi sel T bisa sampai terlacak oleh test pengukuran. [75]

Namun bagaimanapun juga, hipotesis viral load gagal untuk menjawab dua pertanyaan penting: Jika memang ada miliaran HIV, mengapa PCR penting digunakan untuk menemukan mereka? Dan jika PCR adalah satu-satunya cara untuk mendeteksi HIV, bagaimana mungkin ini memungkinkan para ilmuwan untuk memverifikasi hasil dari PCR?

Masalah lainnya dengan viral load adalah bahwa PCR mendeteksi dan menggandakan gen tunggal, dan seringkali hanya fragmen dari suatu gen. Ketika ia mendeteksi 2 atau 3 fragmen genetika dari kemungkinan lusinan gen lengkap, ini bukanlah bukti adanya keberadaan semua gen atau genome lengkap (adanya partikel virus HIV lengkap) [76] Lebih jauh lagi, seseorang dapat membawa segenap genome retroviral dalam sel-sel tubuh seumur hidup mereka tanpa menghasilkan satu virus sedikitpun.

FDA belum menyetujui viral load PCR untuk pengujian HIV atau untuk tujuan diagnosis. CDC mengakui bahwa spesifitas dan sensitifitas dari PCR masih “belum diketahui” dan bahwa “PCR tidak direkomendasikan dan tidak terlisensi untuk tujuan diagnosis rutin.” [77] Para pembuat test viral load sendiri memperingatkan bahwa “test ini tidak dimaksudkan untuk digunakan sebagai test penyaring untuk HIV atau sebagai test diagnosis untuk mengkonfirmasi keberadaan HIV…” [78]

Walaupun tidak ada penelitian yang secara spesifik mempelajari test PCR pada orang-orang yang HIV negatif, literatur medis mencatat banyak insiden mendeteksi adanya level viral load pada orang-orang yang HIV negatif. [79]

Satu group para peneliti AIDS dari Johns Hopkins School of Public Health menyayangkan atas ketidakakuratan viral load PCR dan mendeskripsikannya sebagai test yang tidak masuk akal dan mahal ketika beberapa peneliti memverifikasi PCR telah memberikan hasil yang berlawanan. [80] Suatu laporan data dari penguji AIDS, Dr. David Rasnick, yang dipublikasikan dalam Journal of Biological Chemistry, mendemonstrasikan bahwa setidaknya  99.8% dari hasil pengukuran test viral menunjukkan partikel virus tidak berbahaya, dan menekankan bahwa PCR seharusnya diganti oleh suatu test yang bisa mengukur adanya HIV aktual dalam plasma darah. [81]

Walaupun test viral load PCR tidak bisa membedakan mana virus berbahaya dan mana fragmen genetika tak berbahaya, juga tidak bisa mengukur virus aktual dan tidak disetujui jika digunakan sebagai alat diagnosa, test tersebut tetap saja digunakan oleh para dokter AIDS tiap harinya untuk mendiagnosa infeksi HIV dan dipakai sebagai dasar pemberian resep protease inhibitor jangka panjang, kompenen kemoterapi seperti AZT, obat antibiotik keras, dan obat-obatan lainnya. PCR dengan rutin digunakan untuk mendiagnosis infeksi HIV pada bayi baru lahir dan sebagai pembenaran akan perawatan bayi dengan menggunakan AZT, Bactrim, dan bahan kimia keras lainnya.

Pengukuran PCR tidak berhubungan dengan jumlah sel T, gejala klinis AIDS, atau dengan tingkatan co-kultur HIV. [82] Co-kultur: Pendeteksian suatu virus dalam lingkungan buatan yang mengandung organisme atau sel-sel bereplikasi bercampur dengan plasma atau sel imun.

Dalam penelitian yang membandingkan hasil-hasil viral load dengan deteksi HIV lewat co-kultur, suatu metode pendeteksian yang masih kurang tepat dibandingkan isolasi aktual, 53% dari pasien positif AIDS dengan level viral load terdeteksi, kebanyakan yang dengan viral load di atas 200.000 atau 300.000 ternyata hanya memiliki angka nol dalam co-kultur HIV. [82]

Sejumlah ahli AIDS membantah gambaran Ho mengenai HIV yang berkembang besar-besaran dan tak terkontrol. Keberatan mereka telah dipublikasikan dalam Nature, Lancet dan jurnal ilmiah lainnya. Beberapa, seperti misalnya mantan peneliti AIDS dari pemerintah Dr. Cecil Fox, menyebut hipotesis Ho sebagai “spekulasi matematikal yang tak terkorfirmasi”. [83] Berdasarkan ahli AIDS orthodoks Dr. Michael Asher, dia mengatakan “Jumlah [dari teori viral load] janganlah ditambahkan lagi.” [83]

Spesialis AIDS terkemuka lainnya, Dr. Mario Roderer, menganggap model viral load HIV adalah pathogenesis isu mati karena “beberapa studi-studi yang baik penerapannya dan infomatif malah menyediakan ‘paku-paku terakhir pada peti mati’ untuk … dua laporan Nature.” (Pathogenesis: Proses dimana suatu penyakit atau kekacauan bermula dan berkembang)

Sedangkan peneliti AIDS ternama Dr. Jay Levy memperingatkan bahwa “pengobatan jadi kacau ketika pengobatan tersebut telah salah dalam perhitungan awal yang tidak relevan terhadap masalah klinis yang terlibat…” [84] Kritik-kritik lainnya malah lebih keras lagi, menggambarkan hipotesis HIV baru ini sebagai “viral load omong kosong.” [85]

.

HIV-NYA MANA?

Untuk bisa menerima hipotesis virus AIDS Gallo, para peneliti dan dokter membenarkan begitu saja bahwa Gallo telah mengisolasi retrovirus unik, yaitu HIV, dan bahwa protein yang dia pakai untuk mengkonstruksi test antibodi HIV murni berasal dari pengisolasian virus bersangkutan. Namun demikian, sejak diumumkannya penemuan Gallo, sejumlah ilmuwan telah mengajukan berbagai pertanyaan serius mengenai apa yang telah diterima sebagai terisolasinya HIV.

Berdasarkan klaim mereka, HIV, tidak seperti virus lainnya, tidak pernah terisolasi sebagai partikel independen yang stabil. [86] Para ilmuwan ini menyatakan bahwa gambar mikroskop elektron dari semua HIV yang terisolir, asli dari Gallo dan para peneliti AIDS lainnya, memperlihatkan beberapa obyek yang mirip retrovirus bersama dengan sejumlah obyek mikrobial lainnya yang jelas bukan virus, dan diantara semua obyek ini, obyek yang mirip retrovirus dan disebut HIV sebenarnya hanya teramati di kultur sel yang telah distimulasi oleh bahan kimia tertentu. [87]

Pengisolasian adalah satu-satunya bukti langsung dan pasti atas adanya virus, dan pengisolasian suatu virus dari plasma (larutan alami yang tersisa ketika sel darah putih disisihkan dari darah) pasien yang tak terkultur adalah satu-satunya bukti bahwa seseorang memiliki infeksi virus yang aktif. [88] Kultur merupakan lingkungan buatan dari lab yang mengandung sel dan mikroorganisme yang bereplikasi.

Normalnya, pengisolasian yang benar dapat diperoleh tanpa kesulitan karena orang yang dengan infeksi virus aktif akan memiliki banyak virus dalam plasma mereka. Namun tidak demikian dengan kasus HIV. Malahan, tidak ada bukti sama sekali bahwa seseorang benar-benar pernah ditemukan HIV pada plasma segarnya. Justru para peneliti AIDS hanya bisa menemukan apa yang mereka sebut sebagai HIV yaitu ketika plasma atau sel imun (co-kultur) dan bahan kimia dicampur ke dalam kultur. Oleh karena kultur yang sengaja distimulasi dapat mempengaruhi DNA virus untuk memproduksi virus bahkan ketika plasma pasien tidak mengandung virus. Menemukan virus dengan cara demikian tidak dapat mengganti bukti bahwa plasma pasien mengandung virus. Pengisolasian yang benar memerlukan plasma segar dan tidak terkultur.

Ketika virus bisa diisolasi dari plasma segar milik 99% orang-orang yang memiliki hasil test positif dalam studi validasi, barulah test tersebut bisa dianggap 99% akurat. Ketika klaim isolasi co-kultur dipakai untuk mengevaluasi hasil test HIV positif, keakuratannya adalah 0-10% bagi pasien tanpa gejala AIDS dan kira-kira 40% bagi pasien yang memiliki gejala-gejala AIDS. [89]

Keakuratan yang benar dari test antibodi HIV tidak pernah ditetapkan dengan cara menentukan berapa persen orang-orang yang ditest antibodi HIV positif benar-benar memiliki HIV aktual yang bisa diisolasi dalam plasma segar tak terkultur. Hal ini, sejalan dengan fakta bahwa apa yang disebut dengan HIV diteliti hanya dalam pertumbuhan buatan lab yang distimulasikan oleh bahan kimia, dan telah membuat para ilmuwan menyimpulkan bahwa HIV tidak pernah terisolsi dan bahwa semua test HIV tidaklah valid.

(Pembaca yang tertarik dengan informasi lebih lagi mengenai isolasi HIV silahkan memeriksa kumpulan artikel di www.virusmyth.com )

.

MITOS AIDS; SEL T TURUN ATAU VIRAL LOAD NAIK ITU ARTINYA ANDA SAKIT

Kepercayaan umum mengenai viral load adalah jika viral load tinggi berarti Anda sakit dan harus diberi ARV atau HAART. Atau jika sel T Anda rendah, Anda harus segera menaikkannya karena jika tidak naik-naik juga, Anda akan “digerogoti” oleh penyakit oportunistik sampai Anda meninggal. Namun tahukah Anda bahwa itu semua adalah mitos?! Yang benar adalah sel T dan viral load tidak berhubungan sama sekali dengan tingkat/kondisi kesehatan seseorang dan Anda tidak perlu berusaha untuk menaikkan sel T Anda.

Tentu Anda bingung dengan pernyataan ini. Untuk lebih jelasnya, silahkan Anda simak percakapan email antara Christine Maggiore, pendiri Alive & Well, dengan dua Odha (Orang dengan HIV/AIDS) mengenai perhitungan viral load dan sel T. [177]

.

Kenapa Hasil Test Saya Menyatakan Saya Sakit Padahal Saya Sehat-sehat Saja? 

Dear Christine,

Saya terdiagnosa positif (HIV) 2 tahun lalu. Sebelum dan sejak ditest positif, kesehatan saya baik-baik saja. Saya merasa normal dan tidak ada keluhan atau masalah kesehatan. Tapi, dokter saya mengatakan “angka saya” menunjukkan bahwa saya sakit dan saya perlu diberikan terapi obat. Dia berkata saya akan mati kecuali saya segera memulai terapi ARV, dan mendengar hal ini benar-benar menekan perasaan saya.

Sementara orang disekeliling saya terkena flu, saya tetap baik-baik saja. Bagaimana mungkin angka sel T saya sepertinya “berbeda” dengan kondisi kesehatan saya?

Confused (Yang Bingung) di OC

.

Dear Confused,

Banyak orang menulis kepada saya dengan beberapa pertanyaan mengenai perhitungan sel T. Para dokter memakai perhitungan tersebut untuk menyatakan bahwa seseorang sakit walaupun orang itu terlihat sehat-sehat saja dan walaupun pengukuran sel T tidak terbukti secara ilmiah bisa memberikan informasi yang bisa dipercaya mengenai kesehatan, kondisi sakit, atau juga tingkat sistem imun seseorang.

Jika Anda mengecek literatur medis, akan Anda temukan bahwa tidak ada studi yang membuktikan perhitungan sel T merupakan indikator akurat atas kesehatan seseorang. Anda juga akan menemukan bahwa studi para ilmuwan AIDS  dalam perhitungan sel T atas kumpulan orang positif HIV, ternyata hasilnya sama dengan yang negatif HIV.  Sama persis dimana orang-orang yang negatif dan positif HIV juga memiliki “resiko AIDS” serupa seperti misalnya hemophilia, pengguna narkoba, penderita multiple STD dan infeksi lainnya.

Juga tidak ada studi satu pun yang meneliti perhitungan sel T pada populasi umum menyeluruh, atau secara cermat meneliti pada kondisi kehidupan yang bervariasi, seperti misalnya penelitian pada saat subyek sedang stress, pada saat menua, pada wanita yang sedang mengalami menstruasi atau yang menopause, dan sebagainya.

Suatu studi terhadap para atlet Olympic di awal 1980-an (dikutip dari laporan komisi Hak Asasi UN yang dipresentasikan oleh Project AIDS International) menunjukkan perhitungan sel T mereka rata-rata diantara 400 dan 600. Ironisnya, sampai dengan pertengahan 90-an, perhitungan sel T 500 atau ke bawah pada orang yang positif HIV dianggap sakit dan perlu terapi agresif memakai obat-obatan AIDS. Berdasarkan tuntunan tadi mengenai perhitungan sel T, para atlet muda yang sebenarnya sehat-sehat saja dianggap sakit dan sedang menuju ke kematian.

Pernyataan akhir-akhir ini oleh seorang spesialis AIDS terpandang Dr. Brian Gazzard juga mempertanyakan tentang “pentingnya” perhitungan sel T ini. Beberapa tahun yang lalu, Dr. Gazzard yang tidak positif HIV, melakukan pengetesan jumlah sel T dari darahnya sendiri dan hasil yang keluar adalah 350, sedikit di atas garis pemisah untuk diagnosis AIDS. Pada saat itu, Gazzard berada dalam kondisi yang sehat dan sampai sekarang juga tetap sehat.

Berlawanan dengan asumsi umum, sejumlah dokter AIDS terpandang dan juga para peneliti mempertanyakan penggunaan pengukuran sel T dan viral load sebagai tolak ukur atau prediksi kesehatan seseorang. Peneliti AIDS, Dr. Mario Roederer dari Stanford University School of Medicine menyatakan bahwa “darah tidak sempurna dalam merefleksikan kondisi sistem imun… fakta bahwa HIV memakai sel CD4 sebagai reseptor utamanya dan bahwa jumlah sel T CD berkurang selama menderita AIDS adalah suatu hal kebetulan yang menyesatkan dalam memahami immunopathogenesis AIDS.”

Roderer juga menekankan bahwa para peneliti Pakker telah menghasilkan “bukti kuat bahwa peningkatan jumlah sel yang diamati segera sesudah permulaan pemberian HAART (Highly Active Anti-Retrovial Therapy) adalah disebabkan oleh pembagian kembali (redistribusi) sel T, bukannya perkembangbiakan sel T.” Apa arti ini semua adalah HAART tidak menyebabkan produksi sel-sel T baru, tapi ia hanya membagikan kembali sel-sel yang sudah ada dengan cara mengeluarkan sel T dari jaringan lymphoid ke dalam darah sekitarnya. Kepercayaan umum bahwa HAART meningkatkan sel T sama saja dengan percaya bahwa Anda memiliki perabotan ruang tamu yang baru padahal perabotan tersebut pindahan dari kamar tidur Anda. (Kutipan dari “Getting to the HAART of T Cell Dynamics” Nature Medicine Volume 4 No 2 February 1998).

Jay Levy, MD dokter AIDS ternama dari University of California di San Francisco telah banyak memberi komentar mengenai perhitungan sel T dan viral load dalam artikelnya “Is There Truth In Numbers?”:

-”Jumlah limfosit dalam darah [jumlah sel T] mewakili hanya sebagian kecil (3%) dari total sel T di dalam tubuh…”

– “Perubahan tingkat sel CD4+ tidak menunjukkan secara konsisten sebagai akibat dari terapi antiviral.”

-”Pembagian kembali (redistribusi) sel-sel ini bersumber dari lymphoid, bukanlah suatu produksi sel-sel baru, yang nampak (seolah-olah) sebagai peningkatan jumlah.”

– “…tingkat sel CD4+ selama terapi tidak berhubungan dengan keselamatan (survival).”

(Kutipan di atas berasal dari Journal of the American Medical Association July 10, 1996 halaman 161-162)

.
Anda juga bisa menemukan publikasi AIDS resmi dari pemerintah Amerika yang mengakui kurangnya bukti akan asumsi umum mengenai sel T. Berikut beberapa kutipan yang mencerahkan dari “The Relationship Between HIV and AIDS (Hubungan Antara HIV dan AIDS),” suatu dokumen misterius tanpa nama pengarang dari National Institutes of Health yang isinya justru berusaha untuk membuktikan bahwa HIV menyebabkan AIDS:

– “HIV menginfeksi dan membunuh limfosit T CD4+ dalam percobaan laboratorium, walaupun para ilmuwan telah mengembangkan jaringan sel T abadi dalam rangka mengembangbiakan HIV di dalam laboratorium.” Lain kata: Para ilmuwan hanya dapat menunjukkan HIV menginfeksi dan membunuh sel T dalam kaca percobaan lab, tidak dalam tubuh manusia, dan ironisnya, para ilmuwan mengembangbiakkan kultur lab yang disebut (dianggap) sebagai HIV dalam sel T yang sebenarnya tidak pernah terpengaruh oleh keberadaan HIV ini (“jaringan sel T abadi” adalah sel T yang tidak pernah mati).

– “Beberapa mekanisme pembantaian sel T CD4+ telah terlihat di sistem lentivirus dalam percobaan lab (in vitro) dan hal ini menjelaskan akan matinya sel-sel ini secara progresif pada individu yang terinfeksi HIV.” Lain kata: Para peneliti AIDS telah melihat virus-virus serupa HIV membunuh sel T dalam kaca percobaan lab dan entah bagaimana pengamatan mereka “menjelaskan” akan matinya sel T pada penderita yang positif HIV.

– “Fenomena auto-imun lainnya juga bisa menyokong matinya sel T CD4+ sejak selubung protein HIV berbagi beberapa tingkat homology dengan molekul-molekul tipe 2 kompleks histocompatibilitas utama tertentu.” Lain kata: Hal-hal lain dapat menyebabkan matinya sel T, dan ngomong-ngomong, protein yang dimaksud tadi yang seharusnya unik untuk HIV (karenanya penggunaannya dalam test lab mereka klaim untuk mengindentifikasi keberadaan spesifik dari HIV) bukanlah komponen unik dari HIV.

Saya harap ini semua bisa membantu Anda.

Christine

.

Akankah Angka Viral Load Saya Naik? 

Dear Christine,

saya telah berhenti HAART karena adanya lipodystrophy (pipi yang terlalu mencekung, gumpalan dipunggung, kolesterol tinggi, dll) dan juga efek samping lainnya seperti misalnya diare terus menerus. Sejak stop (dari HAART), viral load saya akan terus naik dan saya akan sakit pneumonia. Apa komentar Anda untuk hal ini?

Salam,
Scared Guy (Yang Sedang Ketakutan)

.

Dear Scared,

Saya dapat mengerti kenapa Anda berhenti memakai HAART dengan efek samping seperti itu dan saya juga mengerti kekhawatiran Anda akan kemungkinan bakal makin sakit. Saya rasa cara terbaik untuk mengevaluasi situasi Anda adalah menguji viral load itu sebenarnya mengukur apa dan apa yang HAART bisa dan tidak bisa lakukan.

Viral load tidak bisa mendeteksi atau mengukur (jumlah) HIV. Test tersebut mengambil sisa materi genetik, bukan virus seutuhnya, dan test tersebut bahkan belum disetujui sebagai sarana untuk mendeteksi keberadaan HIV. Dalam literatur alat-alat test viral load  tertulis “tidak dimaksudkan digunakan sebagai test  penyaringan (screening) untuk HIV atau untuk mengkonfirmasi adanya infeksi HIV.”

Empat tahun lalu, viral load saya 359.000 dan saya baik-baik saja. Ironisnya, justru ketika viral load saya rendah yaitu 980, saya malah menderita pneumonia. (Saya pulih dengan cepat dengan menggunakan terapi alami sementara adik laki-laki saya yang negatif HIV yang juga kena pneumonia di waktu bersamaan perlu waktu sembuh lebih lama – Intinya: pneumonia benar-benar terjadi.)

Saya akhir-akhir ini meninjau data medis seseorang (Odha) yang kami bantu kasusnya. Viral load dia berawal dari tak terdeteksi sampai ke 750.000 dan kemudian turun drastis “sekitar” 150.000 tanpa memakai terapi ARV. Saya mengatakan “sekitar” karena darahnya dikirim ke dua lab berbeda di hari yang sama (memakai darah yang diambil bersamaan) dan hasil kedua test tersebut kembali dengan jumlah perhitungan kedua-duanya hampir 200.000. Viral load dia kemudian naik kembali dan kembali turun menjadi 2.500-an. Selama naik-turunnya viral load, terlihat tidak ada hubungannya antara viral load dan perhitungan sel T, dimana keduanya dilakukan bersamaan. Ketika viral load tinggi, kadang-kadang sel T juga tinggi. Ketika sel T turun, viral load dia turun, dan juga naik.  Selama periode pengawasan, hampir dua tahun dia mengalami hasil test naik-turun yang tidak berhubungan satu sama lain, dan orang ini kondisi kesehatannya baik sekali. Tiap masukan data medis miliknya selalu dengan hasil kesehatan normal dan dia tidak memiliki masalah jamur, tidak ada pembengkakan kelenjar, infeksi, diare, atau masalah kesehatan lainnya yang umum terjadi pada seseorang yang daya tahan tubuhnya hilang.

Studi-studi terbaru menunjukkan apa yang obat HAART bisa lakukan adalah secara tak beraturan menghalangi protease dari pneumonia tertentu, dan juga infeksi dari beberapa jamur dan bakteri. Efek yang tidak diharapkan ini dapat membantu seseorang yang sangat sakit, tapi bukan berarti HAART efektif melawan HIV, tidak juga ia merupakan pilihan terbaik untuk seseorang yang sedang sakit atau merupakan perawatan terbaik bagi orang yang ditest positif tapi tidak sakit.

Jika Anda menganggap bahwa HAART seharusnya secara spesifik bereaksi melawan HIV, tapi pada kenyataannya, secara tidak spesifik ia juga menghalangi protease dari mikroba lainnya termasuk protease pencernaan manusia, dan ia juga menyebabkan masalah metabolik, penempatan jaringan lemak yang salah, masalah pencernaan, pankreatitis, batu ginjal, gagal ginjal, serangan jantung dan stroke. Saya tidak yakin jika HAART adalah solusi terbaik untuk mencegah penyakit.

Saya rasa keputusan Anda mengenai HAART harus didasarkan pada rasio resiko-manfaat dan semua fakta tentang angka-angka lab. Jika ada yang bisa saya bantu lebih lagi, jangan sungkan-sungkan untuk menanyakannya.

Salam,
Christine

Baca juga: Tips Mengobati HIV/AIDS dengan Minyak Kelapa Murni

Dari kutipan email di atas, yang diambil dari kumpulan artikel di Alive & Well, apakah Anda masih yakin HARUS menaikkan sel T atau HARUS menurunkan angka viral load Anda? Seperti yang sudah dijelaskan di atas, viral load tinggi tidak berarti bahwa Anda sakit. Orang sehat pun bisa memiliki hasil viral load yang tinggi. Prinsip yang sama juga berlaku pada jumlah sel T, yaitu jika rendah, itu bukan berarti Anda pasti sedang sakit. Tidak ada gunanya Anda berusaha menurunkan viral load atau berusaha menaikkan sel T karena keberadaan ini semua tidak ada hubungannya sama sekali dengan sehat atau tidaknya Anda.

.

Referensi:

[70] Gallo R 1984 Science 224; Piatak M 1993 Science 259; Ho D 1991 New England Journal of Medicine 324:961; Shaw G 1991 New England Journal of Medicine 324:954; Cooper 1992 Lancet 341:1099

[71] Duesberg P 1996 Inventing the AIDS Virus Regnery Press, Washington DC p174-180

[72] Bialy H, Duesberg P March 1995 Letter to Nature. Source: AIDS: Virus or Drug Induced? Duesberg P (editor) 1996 Kluwer Academic Publishers, Netherlands

[73] Ho D, et al 1995 Rapid Turnover of Plasma Virions and CD4 Lymphocytes in HIV-1 Infection Nature 373:123-126; Wei X, et al 1995 Nature 373:117-122

[74] Kary Mullis at HEAL Los Angeles, October 25 1995

[75] Philpott P, Johnson C 1996 Viral Load of Crap Reappraising AIDS Vol 4:10 p2

[76] Johnson C Viral Load and the PCR Continuum Vol 4:4 November/ December 1996

[77] CDC faxback document #320320 sent in reply to an inquiry by Christine Johnson

[78] Roche Amplicor PCR Diagnostics HIV-1 Monitor test kit pamphlet

[79] Defer C, et al 1992 Multicenter Quality Control of PCR Detection of HIV DNA AIDS 6:659-663; Bush, et al 1992, Journal of AIDS 5:872; Gerberding J 1994 Incidence and Prevalence of HIV, Hepatitis B, and CMV Among Health Care Personnel at Risk for Blood Exposure Journal of Infectious Disease 170:1410-1417; de Mendoza, et al 1998 False Positive for HIV Using Commercial Viral Load Quantification Assays AIDS 12:2076-2077; Rich J, et al 1999 Misdiagnosis of HIV Infection by HIV-1 Plasma Viral Load Testing: A Case Series, Annals of Internal Medicine 130:37-39

[80] Schwartz D, et al 1997 Extensive Evaluation of a Seronegative Participant in an HIV-1 Vaccine Trial as a Result of False-Positive PCR, Lancet Vol 350 No 9073 p256

[81] Rasnick D 1997 Kinetics Analysis of Consecutive HIV Proteolytic Cleavages of the Gag-Pol Polyprotein Journal of Biological Chemistry March 7 p6348-6353

[82] Piatak M, et al 1993 Science 259:1749-53

[83] Roderer M 1998 Getting to the HAART of T Cell Dynamics Nature Medicine Vol 4:2 p145-146; Levy J 1996 AIDS Surrogate Markers: Is There Truth in Numbers? JAMA Vol 276 p161-162

[84] Levy J 1996 AIDS Surrogate Markers: Is There Truth in Numbers? JAMA Vol 276 p161-162

[85] Philpott P, Johnson C 1996 Viral Load of Crap Reappraising AIDS Vol 4:10 p2

[86] Papadopulos-Eleopulos E, et al 1988 Reappraisal of AIDS: Is the Oxidation Induced by the Risk Factors the Primary Cause? Medical Hypothesis 25:151-162

[87] Papadopulos-Eleopulos E, et al 1993 Is A Positive Western Blot Proof of HIV Infection? Bio/Technology 11:696-707; Papadopulos-Eleopulos E, et al 1996 The Isolation of HIV: Has it Really Been Achieved? Continuum Vol 4:3 Supplement p1-24; Turner V 1996 Do HIV Antibody Tests Prove HIV Infection? Continuum 1996 Vol 3:5 p8-11; Papadopulos-Eleopulos E, Stewart G, et al 1997 HIV Antibodies: Further Questions and a Plea for Clarification Current Medical Research and Opinion 13:627-634

[88] Philpott P 1997 The Isolation Question Reappraising AIDS Vol 5:6 June/July/August

[89] Gallo R 1984 Science 224:497-508; Piatak M 1993 Science 259:1749-1754; Piatak M 1993 Lancet 341:1099; Daar, et al 1991 New England Journal of Medicine 324[14]:961-964; Clark, et al 1991 New England Journal of Medicine 324:954-960; Cooper, et al 1992 Lancet 340:1257-1258

[177] http://aliveandwell.org/html/viral_load_tcell/good_numbers.html

 

Tinggalkan Balasan