Sembuhkan Gagal Ginjal dengan Terapi Propolis

Komunitas medis konvensional menganggap kasus gagal ginjal termasuk penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Untuk mengatasinya mereka akan menawarkan solusi RUTIN cuci darah SEUMUR HIDUP atau cangkok ginjal (yang belum tentu juga berhasil). Biaya sekali cuci darah saat ini berkisar Rp.600.000 – Rp.800.000. Untuk cangkok ginjal diperlukan biaya berkisar Rp.300 juta – Rp.500 juta. Inipun belum termasuk biaya opname, biaya konsultasi dokter, dan lain-lain.

Nah, perlu Anda ketahui bahwa sebenarnya dengan pengobatan medis holistik, gagal ginjal itu bisa disembuhkan, sehingga penderita tidak harus cuci darah seumur hidup atau cangkok ginjal.

SALAH SATU media ampuh untuk menyembuhkan gagal ginjal adalah dengan propolis, yang 100% alami tanpa efek samping bahkan harganya JAAUUUH lebih murah daripada cuci darah SEUMUR HIDUP atau cangkok ginjal. Jadi sebenarnya, obat ampuh untuk menyembuhkan gagal ginjal itu sudah ditemukan!

“Lho, jika memang benar sudah ditemukan obat untuk MENYEMBUHKAN gagal ginjal, tapi kenapa tidak dijadikan standar pengobatan di semua rumah sakit dan diajarkan di sekolah kedokteran konvensional?”

Jawabannya: Karena jika RAHASIA ini dijadikan standar pengobatan di semua rumah sakit dan diajarkan di sekolah kedokteran konvensional, maka banyak pihak akan kehilangan uang besar, seperti misalnya mafia kesehatan di raksasa farmasi, mafia rumah sakit, dan para oknum “dokter nakal”.

Dengan vonis TAK BISA DISEMBUHKAN dan cuci darah SEUMUR HIDUP itu artinya “pihak-pihak nakal” mendapatkan bisnis besar dengan repeat order selama-lamanya, tentu saja, selagi pasien masih hidup. Kalau pasien sembuh total, mereka sudah tentu kehilangan “pelanggan kesayangan” mereka. Boleh dikata, tidak ada penyakit, tidak ada uang.

Jadi alangkah beruntungnya Anda mendapatkan informasi SUPER BERHARGA ini sehingga Anda diperlengkapi dengan pengetahuan untuk menyelamatkan diri sendiri dan oranglain dari kejahatan terselubung mafia kesehatan kasus gagal ginjal.

Mari kita pelajari bagaimana peran propolis dalam penyembuhan gagal ginjal dari Majalah Trubus dan dari perusahaan MLM, sebab orang bijak, dengan pikiran terbuka dan kerendahhatian belajar dari apapun dan dari siapapun.

Testimoni dari Trubus

BERHENTI CUCI DARAH BERKAT PROPOLIS

Adhitya Tri Wardhana kejang, seluruh badan kaku, dan lemas. Ternyata itu gejala gangguan fungsi ginjal sehingga mesti cuci darah.

Acara liburan kelulusan sekolah di Bali pun riuh, guru dan teman-teman yang tengah asik bermain panik. Mereka membawa Adhitya yang saat itu berusia 16 tahun ke rumahsakit. Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan fungsi ginjal Adhitya positif turun. Di tubuhnya terdeteksi penumpukan sisa metabolisme protein dan kekurangan elektrolit. Itulah sebabnya dokter memberi suntikan elektrolit untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh.

Kondisi kesehatan yang tidak bagus memaksa Adhitya mengakhiri liburannya lebih cepat dan pulang ke Surabaya, Jawa Timur. Wiwik Sudarwati, M.Pd., ibunda Adhitya, tidak percaya jika ginjal anaknya bermasalah. “Waktu berangkat ke Bali, Adhitya masih segar bugar. Tetapi kok tiba-tiba sakit”, kata ibu 3 anak itu. Oleh karena itu Wiwik kembali membawa Adhitya ke Rumahsakit Sint Vincentius a Paulo (sohor dengan nama RKZ atau Roomsch Katholiek Ziekenhuis), Surabaya. Hasil diagnosis dokter sama saja: bungsu tiga bersaudara itu mengalami gangguan fungsi ginjal.

Sejak itu Adhitya rutin mengkonsumsi obat-obatan dan mengecek kesehatan sebulan sekali. Beraktivitas berat pun terlarang. Menu makanannya juga diatur. Adhitya menghindari konsumsi makanan berprotein tinggi. Tujuannya supaya ginjal tidak bekerja terlalu berat dalam membuang sisa-sisa metabolisme protein. “Adhitya hanya boleh mengkonsumsi protein 40 g sehari”, kata Wiwik.

Cuci darah hampir 3 tahun, Adhitya hidup di bawah pengawasan dokter. Selama itu ia tidak mengalami keluhan sakit. Namun, menjelang pelulusan SMA, kesehatan pria yang kini berusia 22 tahun itu drop. Saat itu ia mengikuti banyak kegiatan bimbingan belajar sehingga sering pulang malam dan pola makanan pun tidak terkontrol. Akibatnya, Adhitya kembali menginap di rumahsakit.

Dokter mendiagnosis positif gagal ginjal. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar kreatinin dalam darah tinggi mencapai 12 mg/dl, kadar normal 0,6-1,2 mg/dl. Solusinya cuci darah 2 kali sepekan. Saat ini biaya sekali cuci darah berkisar Rp 800.000. Namun, keluarga memutuskan Adhitya untuk mengkonsumsi obat-obatan. Pilihan itu ternyata berisiko tinggi.

Buktinya berselang 2 hari setelah menolak saran dokter, Adhitya kembali menjalani pemeriksaan darah. Hasilnya, kadar kreatinin semakin melonjak, 15 mg/dl. Dokter mengingatkan lagi untuk segera cuci darah. Bila dibiarkan, kreatinin akan meracuni organ tubuh lain. Dokter juga memberikan opsi lain, yaitu transplantasi ginjal. Salah satu dari orangtua Adhitya harus rela menyumbangkan ginjal kepada sang anak. “Biayanya mencapai Rp 400 juta”, ujar Wiwik.

Menurut dr. Sidi Aritjahja, dokter di Yogyakarta, gagal ginjal merupakan ketidakmampuan ginjal menyaring dan mengeluarkan zat-zat racun, seperti kreatinin, dari tubuh sehingga menumpuk dalam darah. Kadar kreatinin tinggi menandakan organ yang mirip seperti biji kacang merah itu gagal bekerja. Kondisi itu berbahaya karena bisa meracuni organ tubuh lain. Oleh sebab itulah penderita gagal ginjal harus menjalani cuci darah.

Kali ini, Adhitya manut terhadap saran dokter. Ia dirawat-inap dan melakukan cuci darah rutin 2 kali sepekan. Setelah 18 hari menginap di rumahsakit, dokter mengizinkan Adhitya pulang. Namun, setiap 5 hari sekali ia harus kembali untuk cuci darah. Selain itu ia juga harus tetap menjaga menu makanan supaya pencernaannya tidak memberatkan kerja ginjal.

Propolis

Pada pertengahan 2007, Wiwik bertemu salah satu rekannya, Baktiono. Ketika itulah Baktiono menyarankan kepada Wiwik agar memberikan propolis untuk mengobati Adhitya. Menurut Baktiono konsumsi propolis bagus untuk meringankan beragam penyakit. Propolis merupakan produk yang dihasilkan lebah Apis cerana dan Apis mellifera. Jika madu terdapat di dalam sarang heksagonal; propolis di luar sarang. Menurut Ir. Hotnida CH Siregar, M.Si., ahli lebah dari Institut Pertanian Bogor, lebah pekerja mengolah propolis dari berbagai bahan seperti pucuk daun, getah tumbuhan, dan kulit beragam tumbuhan.

Tertarik dengan saran itu, Wiwik lantas membeli 1 botol propolis. Ia kemudian menyuruh Adhitya mengkonsumsinya 3 kali sehari sebelum makan. Satu setengah bulan rutin mengkonsumsi propolis, Adhitya melakukan cek darah. Hasilnya positif, kadar kreatinin turun di bawah 10 mg/dl. Menurut dokter yang memeriksa, kadar kreatinin di bawah 10 mg/dl tidak perlu cuci darah.

Hasil itu merupakan kabar gembira bagi Adhitya dan keluarga. Bahkan setahun rutin mengkonsumsi propolis, ia pun tak pernah lagi diwajibkan untuk cuci darah. Pemeriksaan laboratorium terakhir, pada pertengahan 2008, menunjukkan kadar kreatinin turun menjadi 4 mg/dl. Sejak itu Adhitya rutin mengkonsumsi propolis sampai sekarang. Selain tak perlu cuci darah, konsumsi propolis juga meningkatkan stamina. Dulu Adhitya sering lemas dan cepat capai. Sekarang kondisinya lebih energik dan fit. Mahasiswa di Universitas Bhayangkara itu pun leluasa beraktivitas sehari-hari. “Dulu ke mana-mana harus diantar, sekarang sudah bisa pergi sendiri,” kata Wiwik.

Dengan rutin mengkonsumsi propolis, Adhitya kini terbebas dari cuci darah. Menurut Liu CF, periset di National Taipei College of Nursing, antioksidan propolis mampu melindungi ginjal dari kerusakan parah. Khasiat itu dibuktikan Liu secara in vivo pada hewan percobaan. Ia menguji 2 kelompok tikus yang menderita gagal ginjal akut. Satu kelompok diberi propolis; kelompok lain, tanpa propolis.

Sejam setelah pemberian propolis, Liu lalu mengamati tingkat kerusakan ginjal tikus. Hasilnya, kerusakan ginjal kelompok yang tidak mengkonsumsi propolis lebih parah ketimbang kelompok yang mendapatkan asupan propolis. Itu ditandai dengan meningkatnya kadar malondialdehid (MDA) dalam ginjal tikus. Kadar malondialdehid tinggi mengindikasikan terjadinya stres oksidatif yang bisa memicu kerusakan ginjal.

Menurut Prof. Dr. Mustofa, M.Kes. Apt., periset di Bagian Farmakologi dan Toksikologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, sifat antioksidan pada propolis lantaran mengandung senyawa flavonoid dan polifenol. Senyawa aktif itu melindungi tubuh dari gempuran radikal bebas penyebab kerusakan sel. Dengan terlindungnya ginjal dari kerusakan parah maka proses regenerasi sel pun bisa lebih mudah berjalan. Adhitya Tri Wardhana merasakan manfaat itu. Ia terbebas dari cuci darah sejak rutin mengkonsumsi propolis. (Ari Chaidir/Peliput: Rosy Nur Apriyanti)


Sumber : Majalah Trubus No. 485 Edisi April 2010

Testimoni dari Perusahaan MLM

Syamsuddin A.R, 57 Tahun. Makassar

Pada September 2005, saya harus dirawat di sebuah rumah sakit. Pada saat itu, kondisi saya lumpuh total dan sangat terasa sakit pada bagian pinggang ke bawah. Berat badan saya yang awalnya ideal perlahan-lahan mulai mengalami penyusutan. Bahkan tekanan darah saya saat itu mencapai lebih dari 200.

Saya pun melakukan pemeriksaan darah, dan dari hasilnya diketahui bahwa saya mengalami gagal ginjal, dan asam urat yang sangat tinggi, yaitu 14 mg/dl. Oleh sebab itu, saya harus menjalani cuci darah sampai sebanyak 3 kali.

Pada November 2005, seorang suster mengenalkan produk HD kepada saya, karena beliau melihat kondisi saya yang semakin hari semakin menurun. Kemudian, saya mulai rutin mengonsumsi produk-produk HD seperti Pollenergy 520, Bee Propolis Tablet, dan Royale Jelly Liquid.

Setelah mengonsumsi produk HD, saya mulai merasakan perubahan. Nafsu makan mulai membaik dan berat badan mulai meningkat. Akhirnya, tepat sehari menjelang lebaran, saya memutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Kini, saya tidak lagi menjalani cuci darah, kondisi saya semakin membaik, dan sudah dapat berjalan kembali.

Sungguh produk HD sangat membantu dalam proses penyembuhan saya.

Abdul Mulki, Praja Dalam, Kebayoran Lama

Orang tua saya berusia lebih kurang 70 tahun. Beliau menderita diabet akut sehingga merambah ke gagal ginjal dan gangguan penglihatan. Karena gagal ginjal, orang tua saya harus cuci darah seminggu dua kali. Awalnya kakak saya hanya dikasih 2 botol Melia Propolis oleh temannya (Pak Havizd) untuk diteteskan ke mata. Satu minggu kemudian ketika mau cuci darah, ibu saya sudah dapat melihat dengan jelas. Akhirnya kakak saya langsung memesan Melia Propolis dan Melia Biyang untuk Ibu. Alhamdulillah setelah mengonsumsi keduanya secara teratur selama 6 bulan, sekarang ibu saya sudah tidak cuci darah lagi. Fungsi ginjalnya sudah memaik. Yang luar biasa, kedua kaki ibu saya yang luka-luka akibat diabet akut, sekarang sudah sembuh. Terimakasih Melia.

Aturan Konsumsi Propolis untuk Gagal Ginjal

Sangat sederhana sekali bukan?! Para ilmuwan konvensional kasak kusuk menghabiskan banyak waktu dan dana untuk menemukan obat gagal ginjal, namun komunitas medis holistik malah dengan kesederhanaan belajar dari alam telah melangkah jauh dan menemukan solusi mujarabnya.

Nah, secara umum, aturan konsumsi propolis baik dalam bentuk tablet, kapsul ataupun cair adalah sebagai berikut:

  • Propolis tablet/kapsul: 3×2-3 tablet ½ jam sebelum makan atau 1-2 jam sesudah makan.
  • Propolis cair: 3×10-15 tetes ½ jam sebelum makan atau 1-2 jam sesudah makan.

Untuk meningkatkan prosentase kesembuhan, lebih baik menggabungkan propolis dengan terapi lainnya seperti misalnya terapi baking soda, minyak kelapa murni, minyak ikan, pengaturan pola makan, dan sebagainya. Oleh karena tiap individu memiliki metabolisme yang berbeda-beda, maka respon dan kebutuhan pada terapi akan berbeda pula. Akan lebih baik jika Anda mendapatkan arahan dari pakar alternatif atau medis holistik untuk pengobatan gagal ginjal yang dijalani. Untuk konsultasi kesehatan, silahkan Anda KLIK DI SINI.

Rahasia sederhana tapi besar ini telah Anda miliki. Namun jangan biarkan informasi berharga ini hanya ada pada Anda saja! Gerakkan jari Anda dan sebarkanlah ke rekan-rekan, teman, atau keluarga Anda sehingga mereka pun bisa terhindar dari kasus mafia kesehatan gagal ginjal!

Healindonesia, Dt Awan (Andreas Hermawan)

“Salah satu tugas utama seorang dokter adalah mendidik masyarakat untuk tidak mengambil obat kimia”

Sir William Osler (1848 – 1919)

“Dokter masa depan tidak lagi memberi obat, namun akan menempatkan kepentingan pasiennya dalam rangka bimbingan kemanusiaan, bimbingan pengaturan pola makan, dan mengenai penyebab serta pencegahan penyakit.”

Thomas Alva Edison

Tinggalkan Balasan