Apa Sudah Siap dengan Efek Samping Obat Epilepsi?

Obat yang paling umum diresepkan dokter konvensional adalah Obat Anti Epilepsi (OAE). Banyak penderita epilepsi yang mengalami penurunan frekuensi kejang atau bahkan tidak mengalami kejang sama sekali selama bertahun-tahun setelah menjalani terapi pengobatan dengan OAE.

Dalam menentukan OAE yang paling cocok dengan pasien, dokter akan menyesuaikannya dengan usia, kondisi, dan frekuensi kejang yang dialami pasien. Selain itu, jika pasien sedang mengalami masalah kesehatan lainnya, dokter akan menyesuaikan OAE agar tidak bersinggungan dengan kinerja obat-obatan lainnya yang sedang dikonsumsi pasien.

Sama seperti kebanyakan obat, OAE juga berisiko menimbulkan efek samping. Efek samping tersebut bisa tergolong ringan atau bisa juga parah. Beberapa efek samping OAE yang tergolong ringan dan menengah di antaranya adalah:

  1. Kenaikan berat badan.
  2. Pusing
  3. Badan terasa lelah.
  4. Penurunan kepadatan tulang.
  5. Daya ingat berkurang.
  6. Bicara tidak lancer.
  7. Hilangnya koordinasi gerakan.
  8. Ruam kulit.

Sedangkan efek samping OAE yang tergolong berat (hal ini bisa terjadi dalam jangka panjang) adalah:

  1. Peradangan pada organ (misalnya organ hati).
  2. Ruam kulit parah.
  3. Menjadi depresi.
  4. Kecenderungan untuk bunuh diri.

Segera beri tahu dokter jika Anda mengalami migrain, perubahan suasana hati, depresi, atau bahkan keinginan untuk bunuh diri setelah mengonsumsi OAE.

Jenis Obat-obatan OAE yang Tersedia

Berikut adalah obat-obatan yang sering digunakan untuk merawat penderita epilepsy beserta efek sampingnya:

  1. Fenitoin (Phenytoin)

Fenitoin adalah salah satu antikonvulsan yang paling sering diresepkan dokter, terutama untuk pengobatan kejang parsial dan kejang grand mal. Efek samping yang biasanya muncul diantaranya adalah mual, ruam, bicara cadel, kebingungan, insomnia, sakit kepala, dan penyakit gusi.

Kemungkinan efek samping yang serius adalah munculnya pikiran bunuh diri, anemia, dan psikosis. Alkohol dapat meningkatkan risiko reaksi dan mengurangi efektivitas obat ini. Hindari meminum antasida pada waktu yang sama karena dapat membuat fenitoin lebih sulit untuk diserap tubuh.

  1. Fenobarbital (Phenobarbital)

Fenobarbital adalah obat penenang barbiturat yang dapat digunakan untuk mengobati kejang parsial dan kejang menyeluruh.

Fenobarbital dapat digunakan juga untuk mengobati epilepsi pada bayi yang baru lahir. Obat ini dapat bersifat adiktif dan akan menyebabkan kantuk.

Selain itu, obat ini juga dapat menyebabkan ketidaksadaran (pingsan) dan penyimpangan memori dimana pasien dapat melakukan berbagai tindakan seperti berbicara di telepon atau mengemudi, namun tidak dapat mengingat tindakan yang dilakukannya tersebut.

Hindari obat flu atau obat-obatan lainnya yang dapat menyebabkan kantuk saat mengambil fenobarbital.

  1. Ethosuximide

Ethosuximide atau Zarontin digunakan untuk mengobati kejang absen (absence seizures). Obat ini dapat menyebabkan gangguan darah yang serius. Oleh karena itu, pemeriksaan jumlah darah lengkap kemungkinan akan direkomendasikan untuk dilakukan secara berkala untuk memantau kondisi darah.

Obat ini juga dapat menyebabkan penyakit autoimun yang disebut lupus. Beberapa efek samping yang mungkin muncul diantaranya termasuk ketidaknyamanan pencernaan, cegukan, mengantuk, lekas marah, dan susah tidur.

  1. Topiramate

Topiramate (Topamax) adalah antikonvulsi generasi kedua. Obat ini sering digunakan dengan antikonvulsan lain untuk mengobati kejang parsial dan kejang tonik-klonik pada orang dewasa dan anak-anak yang berusia 2 sampai 16 tahun.

Topiramate dapat menyebabkan masalah berbicara, gangguan memori, sulit berkonsentrasi, kelelahan, dan hilangnya nafsu makan.

Reaksi atau efek samping berat yang mungkin muncul termasuk diantaranya adalah batu ginjal, pikiran bunuh diri, pankreatitis, anemia, dan emboli paru. Hindari diet protein tinggi saat mengambil topiramate karena dapat meningkatkan risiko batu ginjal. Obat ini juga dapat digunakan untuk mencegah migren.

  1. Gabapentin

Gabapentin (Neurontonin) digunakan untuk mengobati epilepsi pada orang dewasa dan anak-anak yang berusia lebih dari 12 tahun. Obat ini juga dapat digunakan untuk mengobati kejang parsial pada anak kecil yang berusia di atas 3 tahun.

Efek samping yang umumnya muncul pada orang dewasa diantaranya yaitu kurangnya koordinasi, kelemahan, ketidaknyamanan perut, mulut kering, hidung meler, dan masalah tidur.

Pada anak, efek samping yang mungkin muncul yaitu masalah memori (daya ingat), dapat menyebabkan agresi dan permusuhan, dan sulit berkonsentrasi. Selain itu, pikiran bunuh diri, menarik diri (withdrawl), dan gagal ginjal merupakan efek samping serius yang bisa saja terjadi.

Bedah Otak

Jika terapi dengan obat anti epilepsi tetap tidak dapat mengontrol kejang-kejang pada penderita, maka dokter konvensional akan menganjurkan terapi bedah otak. Bedah ini dilakukan untuk mengangkat bagian otak yang menghasilkan kejang.

Pasien mungkin akan dirujuk ke ahli epilepsi untuk dilakukan beberapa tes termasuk tes memori, psikologis, dan pemindaian otak untuk melihat bagian otak yang bermasalah. Setelah dilakukan tes, maka pembedahan akan direkomendasikan jika:

  • Bedah otak tidak akan menimbulkan masalah sigifikan akibat hilangnya bagian otak tertentu.
  • Jika bagian otak yang bermasalah hanya di satu area saja.

Walau demikian, bedah otak ini tetap memiliki efek samping berupa masalah dengan ingatan penderita dan stroke pasca operasi.

Bagaimana? Apa demi mengontrol kejang-kejang tersebut, Anda dan keluarga sudah siap dengan efek samping jangka pendek dan jangka panjangnya?

Jika tidak suka dengan gambaran mengerikan ini, Anda pasti butuh solusi lainnya yang tidak bikin was-was? Anda pasti berharap, kalau bisa pengobatannya tidak ada efek sampingnya.

Kabar baiknya adalah pengobatan alaminya sudah ada dan tanpa efek samping. Anda bisa mempelajarinya dengan melihat contoh-contoh kasus di bawah ini:

Kami juga menyediakan paket-paket terapi untuk mengobati epilepsi tanpa efek samping yang bisa Anda lihat dan dapatkan online dengan cara klik DI SINI.

Butuh konsultasi dulu tentang epilepsi yang Anda hadapi? Silahkan Anda mulai konsultasi dengan cara klik DI SINI.

Healindonesia, Dt Awan (Andreas Hermawan)



Tinggalkan Balasan