Bahaya Jajanan Gorengan Bagi Kesehatan

Banyak orang sangat suka dengan jajanan gorengan, termasuk saya dulu SERING mengkonsumsinya sebelum mengenal sains medis holistik. Jajanan ini ada banyak macamnya, yaitu tahu isi goreng, pisang goreng, singkong goreng, ubi goreng, nangka goreng, dll. Jajanan gorengan adalah camilan khas rakyat Indonesia. Namun dari segi medis, jajanan gorengan juga bisa disebut sebagai junk food-nya Indonesia.

Kok bisa disebut junk food? Apa yang salah dengan jajanan gorengan? Untuk bisa tahu jawabannya, saya ajak Anda untuk menyimak beberapa penjelasan berikut.

Mulai dari Radang Tenggorokan, Kolesterol Tinggi, dan Penyakit Degeneratif

Nangka, singkong, ubi, dan pisang sebenarnya produk alam yang sehat. Namun, bahan makanan yang sehat bisa menjadi tidak sehat bila diolah dengan cara digoreng. Menggoreng makanan bisa membentuk asam lemak trans (Trans Fatty Acid atau TFA) yang dapat merusak dan menyumbat pembuluh darah.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga menjelaskan dalam situsnya bahwa makanan yang kaya karbohidrat atau tepung yang mengalami penggorengan atau proses pemasakan dengan suhu yang tinggi dapat merangsang pembentukan senyawa karsinogenik yang menjadi pemicu kanker, yaitu akrilamida. Dosis TERTENTU akrilamida juga beracun bagi sistem saraf manusia.

Jajanan gorengan yang tinggi lemak trans juga akan membuat seseorang rentan terserang batuk dan memperlambat pengosongan lambung. Lemak trans akan merangsang tenggorokan dan membuatnya gatal sehingga mudah terserang batuk, bahkan menyebabkan radang amandel.

Gorengan juga tidak baik bagi penderita maag, karena dengan adanya lemak trans, lambung akan cepat terisi tapi lebih lambat dicerna, alhasil seseorang akan merasa sudah kenyang dan tidak akan cepat lapar padahal baru makan dalam porsi sedikit. Hal ini membuat kerja lambung akan terganggu.

“Banyak orang yang tidak tahu bahwa kebiasaan makanan gorengan adalah makanan yang memiliki risiko tinggi bagi kesehatan dan menjadi pemicu penyakit degeneratif,” ujar ahli penyakit dalam RSU dr Soetomo Surabaya, Prof Dr dr Yogiantoro SpPD-KGEH saat berbincang-bincang kepada detiksurabaya.com, Jumat (11/4/2008).

Penyakit degenarif itu antara lain, penyakit diabetes mellitus, kardiovaskular, serta stroke. Satu makanan gorengan, setara dengan tiga potong jenis makanan gorengan lauk dan lima potong makanan selingan atau dua potong lauk dan delapan potong makanan selingan.

Prof Yogi menjelaskan, pola makan makanan yang serba instan saat ini memang sangat digemari sebagian masyarakat perkotaan. Gorengan dan jenis makanan murah meriah lain kini juga mudah didapat karena banyak dijual di pinggir jalan.

Bahaya Minyak Jelantah untuk Menggoreng Jajanan

Kadang kita temui gorengan yang dijual di pinggir-pinggir jalan maupun tempat favorit kita memiliki warna yang hitam tidak seperti biasanya, bahkan saat dipegangpun teksturnya keras, dan itu adalah tanda-tanda bahwa gorengan yang akan Anda beli bermasalah. Warna hitam yang kadang kita temui di gorengan tersebut adalah hasil penggorengan dari minyak yang sudah dipakai berulang kali atau kita lebih akrab menyebutnya dengan minyak jelantah.

Kualitas minyak jelantah menurun dari minyak goreng baru. Minyak jelantah mengeluarkan kandungan polimer yang dapat terserap dalam makanan berupa asam lemak trans. Dan dalam minyak jelantah terdapat zat radikal bebas, seperti peroksida dan epioksida yang mutagen dan karsinogen sehingga berisiko terhadap kesehatan manusia, seperti gangguan peroksida pada minyak bekas yang menyebabkan pemanasan suhu tinggi yang mengganggu kesehatan yang berhubungan metabolisme kolesterol.

Bahaya Kertas Bekas Pembungkus Gorengan

Kertas bekas seperti koran, majalah, atau kertas yang sudah tercampur tinta sangat berbahaya bagi tubuh manusia karena di dalam tinta terdapat timbal yang bersifat racun. ”Bila terkena panas atau minyak gorengan, tinta dapat larut dalam makanan”, ungkap M Ali Bata Harahap.

Bila tertelan, paparan timbal yang dikonsumsi BERULANG dalam jangka lama meski dalam jumlah sedikit dapat menyebabkan akumulasi dalam jaringan tubuh, yaitu pada tulang, gigi, hingga ke otak, dan dapat pula menimbulkan efek pada ginjal, hati, darah, saraf, alat reproduksi, dan endokrin dari sistem kekebalan tubuh. ”Tahap awal dari keracunan timbal ditunjukkan dengan kehilangan nafsu makan dan kehilangan berat badan“.

Gorengan yang telah tercemar timbal apabila dimakan dapat menyebaban rasa terbakar pada mulut dan kerongkongan, pengeluaran air liur secara berlebihan, sakit perut disertai rasa mulas yang hebat, muntah, diare dengan tinja berwarna hitam, berdarah, susah buang air besar, merasa kelelahan, gangguan tidur, gelisah, lekas marah, gangguan ginjal, gangguan otak dengan penglihatan, kesemutan, kejang hingga mengalami kelumpuhan. ”Kematian dapat terjadi akibat gagal jantung”.

Dampaknya Lebih Cepat Terlihat Dibandingkan Merokok

Anda sebenarnya juga bisa membuktikan sendiri mengenai bahaya jajanan gorengan ini, tanpa harus menunggu riset orang lain. Anda bisa memperhatikan bahwa seseorang yang biasa merokok 1 bungkus per harinya tidak akan memperlihatkan masalah kesehatan jika merokok selama 7 hari berturut-turut. Namun, coba Anda belikan dan minta seorang perokok untuk mengkonsumsi jajanan gorengan sebanyak 200 gram selama 7 hari berturut-turut. Tidak sampai 7 hari, orang tersebut akan sakit tenggorokan dan batuk-batuk.

Hal ini tidak hanya berlaku bagi perokok, tapi juga bagi KEBANYAKAN (tidak semua) orang jika konsumsi jajanan gorengan secara berturut-turut lebih dari 5 hari.

Tapi ingat, ini bukan berarti bahwa rokok itu tidak berbahaya. Rokok tetap membahayakan kesehatan diri sendiri dan orang lain yang menghirup asap rokok. Namun, dampak negatifnya akan lebih cepat terlihat pada jajanan gorengan dibandingkan merokok.

Sikap Kita Seharusnya Setelah Mengetahui Faktanya

Dalam artikel ini saya tidak menganjurkan Anda stop makan jajanan gorengan serta mendemo para penjual jajanan gorengan. Saya menuliskannya supaya kita semua waspada dan mengambil sikap yang bijaksana, sehingga terhindar dari resiko penyakit radang tenggorokan, kolesterol tinggi, sakit jantung, bahkan kanker.

Biasanya ada beberapa penjual gorengan yang bertindak curang, dengan menambahkan plastik atau sedotan plastik pada saat menggoreng. Tindakan seperti ini mereka lakukan dengan tujuan agar gorengan tetap crispy. Anda bisa membuktikan sendiri dengan mempraktekkannya di rumah. Buat gorengan yang dicampur dengan sedotan plastik dan gorengan yang tidak dicampur dengan sedotan plastik, lalu diamkan beberapa jam. Setelah itu Anda bisa melihat, gorengan yang dicampur dengan sedotan plastik akan tetap terlihat crispy sementara yang lain akan terlihat melempem.

Menggoreng sendiri jajanan gorengan adalah langkah yang lebih baik, namun jangan lupa untuk memakai minyak kelapa atau minyak baru.

Dalam meniriskan gorengan, sebaiknya Anda menggunakan tisu dapur atau bahan penyerap lain yang dapat kontak dengan makanan (food grade). Hindari meniriskan gorengan dengan menggunakan kertas koran atau kertas lainnya yang bertinta, karena tinta mengandung timbal dan akan mudah menempel pada makanan berminyak.

Bagi Anda yang dalam kondisi sehat, JARANG dan sedikit makan jajanan gorengan tidak akan membawa masalah kesehatan, karena tubuh Anda punya kesempatan untuk menetralisir dan membuang efek negatif jajanan gorengan tersebut. Namun, jika Anda sedang sakit atau sensitif terhadap jajanan gorengan, alangkah lebih bijak jika menghindarinya sama sekali.

Tiap orang memiliki metabolisme dan daya tahan yang berbeda-beda. “Dengarkanlah” respon tubuh Anda ketika mengkonsumsi jajanan gorengan. Dari sana Anda akan tahu apa perlu mengurangi konsumsi jajanan gorengan atau bahkan menghindarinya sama sekali.

Healindonesia, Dt. Awan (Andreas Hermawan)




Referensi:

http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2011/07/06/bahaya-gorengan-dan-kertas-bekas-pembungkusnya/

http://surabaya.detik.com/read/2008/04/11/090054/921795/466/awas-gorengan-berbahaya

http://maduhighdesert.blogspot.com/2011/06/awas-bahaya-gorengan-yang-berlebihan.html

http://www.usahamakanan.com/peluang-usaha-gorengan-tetap-menguntungkan.html


.

Tinggalkan Balasan