Benarkah Suplemen K-Link Berbahaya?

Ternyata banyak masyarakat luas belum memiliki pengetahuan yang benar mengenai suplemen dan masih menyangka suplemen seperti klorofil cair, gamat, teh, dan suplemen sejenis lainnya memiliki efek samping yang membahayakan (apalagi menyebabkan kematian). 

Kasus mengenai seseorang yang meninggal akibat meminum Liquid Chlorophyll dari K-Link menurut saya adalah suatu hal yang “menggelikan”. Mengapa demikian? Mari kita simak terlebih dahulu berita dari Kompas.com berikut ini.

Suami dari “Wanita Bersisik” Dilaporkan ke Polda Sumut

JAKARTA, KOMPAS.com, 8 April 2009 — Kasus meninggalnya Maulidah alias Ngatini pada 6 April lalu ternyata berbuntut panjang. Wanita yang tewas dengan tubuh dipenuhi sisik itu diduga mengalami keracunan obat. Setelah menjalani perawatan selama 10 hari, akhirnya ia meninggal dunia.

Terkait dengan kejadian tersebut, K-link, selaku produsen suplemen kesehatan yang dikonsumsi Maulidah, melaporkan M Nur Sitepu yang adalah suami korban kepada kepolisian daerah Sumatera Utara, kemarin. Hal ini menyusul pernyataan Nur kepada media yang menyebut produk obat dari K-link yang menjadi penyebab kematian istrinya.

“Dia (Nur) telah memberitakan kepada media massa bahwa istrinya meninggal karena mengonsumsi produk K-Link. Dia tidak pernah konfirmasi pada kami,” kata kuasa hukum K-link, Hamdan Zoelva, di kantornya, di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta, saat menggelar jumpa pers.

Hamdan mengatakan, produk yang memang dikonsumsi Maulidah, yakni Gamat Vitagel, Kino, dan Klorofil sudah lulus uji laboratorium, baik di Universitas Indonesia, maupun Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). “Produk-produk klien kami dari bahan-bahan alami yang tidak memiliki efek samping apa pun,” kata Hamdan.

Seperti yang telah diberitakan, Maulidah meninggal setelah sempat menjalani perawatan dari tanggal 28 Maret hingga 6 April 2009 di RSUP Haji Adam Malik, Medan. “Mukanya sembab, kusam, dan bersisik. Ketika saya membuka bajunya, badannya hitam, kasar, dan bersisik,” kata Kemala, petugas Puskesmas yang sempat melihat kondisi Maulidah sebelum dilarikan ke RS.

Kemala, yang ternyata menjadi distributor yang menjual K-link kepada Maulidah, menyatakan kesaksiannya ini pada kesempatan yang sama. Menurut Kemala, saat ditanyai dokter, M Nur langsung mengatakan bahwa kondisi istrinya adalah akibat keracunan produk K-link. Namun, ia tidak mengungkapkan riwayat kesehatan istrinya.

Dijelaskan Kemala, sebelum pertama kali mengonsumsi suplemen tersebut, Maulidah sudah mengalami keracunan obat dan gangguan ginjal, selama dua bulan terakhir. Kulitnya pun telah bersisik saat itu. Bahkan sebenarnya, sehari setelah Maulidah memakai obat K-link, tanggal 20 Maret 2009, kondisinya terbilang menjadi sehat dan membaik. “Maulidah sudah kelihatan membaik, bisa berjalan, dan berolahraga kecil,” kata Kemala.

Sayangnya, pada tanggal 26 Maret, Maulidah dimandikan dengan air sirih oleh orangtuanya yang datang ke rumah keluarga itu. Setelah pemandian itu, kata Kemala, kondisi Maulidah menjadi memburuk dan kulit bersisiknya menjadi semakin mengeras. Saat itulah ia dilarikan ke RS pada tanggal 28 Maret.

Atas kasus ini, pihak pengacara menilai Nur layak diganjar dengan Pasal 310 KUH Pidana tentang Pencemaran Nama Baik, dengan ancaman denda maksimal Rp 4.500 atau penjara paling lama 1 tahun 4 bulan.

Link referensi: http://id.news.yahoo.com/lptn/20090407/tpl-diduga-keracunan-obat-ngatini-mening-b03a71c.html

Bukan Karena Suplemen, Tapi Karena Keracunan Obat Kimia

Berita-berita sebelumnya dengan gempar menceritakan kita semua harus “hati-hati” ketika meminum suplemen klorofil cair, seolah-olah ia bersifat seperti obat kimia. Ini sudah salah kaprah, karena mengonsumsi suplemen seperti klorofil cair adalah sama dengan  mengonsumsi teh hijau, larutan madu, kunir, dan minuman berkhasiat lainnya yang jika diminum setiap hari oleh semua orang tidak akan menimbulkan efek samping.

Mengonsumsi klorofil cair juga sama saja dengan mengonsumsi makanan sehari-hari kita, hanya saja, ia adalah tergolong “makanan super” karena memiliki kandungan gizi yang tinggi. Justru mengonsumsi banyak junk food, soft drink, dan obat kimia setiap hari-lah yang harus kita waspadai.

Minum klorofil cair setiap hari TIDAK AKAN membahayakan kesehatan Anda. Bukan hanya dari perusahaan K-Link, tapi juga dari semua perusahaan yang memproduksi klorofil cair. Klorofil berbahaya hanya jika cairan ini telah tercemar atau orang yang mengkonsumsinya ada alergi dengan klorofil (sama seperti ada orang yang alergi telur, kacang, ikan, dll dimana kesalahan bukan pada produknya tapi pada sistem imun orang tersebut).

Jadi sungguh “menggelikan” jika ada saja seseorang yang menyatakan produk  K-Link seperti Liquid Chlorophyll PERLU DIWASPADAI atau DIDUGA berbahaya.

Jika Anda dengan teliti membaca berita di atas, akhirnya diketahui bahwa Ngatini sebelum pertama kali mengonsumsi suplemen tersebut, ia sudah mengalami keracunan obat dan gangguan ginjal, selama dua bulan terakhir. Kulitnya pun telah bersisik saat itu. Bahkan sebenarnya, sehari setelah Maulidah memakai obat K-link, tanggal 20 Maret 2009, kondisinya terbilang menjadi sehat dan membaik.

“Maulidah sudah kelihatan membaik, bisa berjalan, dan berolahraga kecil,” jelas Kemala.

Dari sana kita bisa melihat bahwa penyebab meninggalnya Ngatini bukanlah karena suplemen K-Link, tapi karena TERLALU BANYAK keracunan obat kimia, terlebih lagi adanya gangguan ginjal.

Perbedaan Efek Samping dengan Proses Penyembuhan

“Tapi jangan-jangan karena efek dimandikan dengan daun sirih? Karena sesudah itu kondisinya menjadi memburuk dan kulit bersisiknya menjadi semakin mengeras?!?!”

Itu juga bukan karena efek negatif dari dimandikan dengan daun sirih. Larutan air daun sirih memiliki khasiat detoksifikasi, yang artinya berkhasiat mengeluarkan racun atau zat-zat berbahaya dari tubuh, dalam hal ini proses pengeluaran racun dikeluarkan lewat kulit.

Jadi ketika Ngatini dimandikan dengan daun sirih, adalah normal jika kulitnya “terkesan” memburuk, karena racun-racun yang sudah ada dalam tubuh Ngatini bertahun-tahun lamanya sedang dikeluarkan. Seharusnya pihak keluarga Ngatini jangan cepat-cepat panik dan mengambil keputusan untuk ke rumah sakit, karena justru di rumah sakitlah kondisinya bisa makin memburuk.

Kenapa demikian? Karena di rumah sakit, Ngatini akan diberikan lagi infus dan obat-obat kimia yang dari dulu tubuhnya tidak kuat menerimanya. Ini adalah suatu tindakan bunuh diri. Sudah jelas Ngatini memiliki alergi obat kimia dan menunjukkan gejala Steven Jhonson’s Syndrome keras, tapi tetap saja tubuhnya diberikan obat-obatan kimia.

Kita semua perlu memahami adanya perbedaan antara efek samping dengan proses penyembuhan. Efek samping adalah suatu reaksi tubuh yang menolak terhadap pengobatan yang diberikan, dan ini biasanya diakibatkan oleh karena pengobatan sintetis atau kimia dimana unsur tidak alami ini dianggap asing dan berbahaya oleh tubuh.

Sedangkan proses penyembuhan secara garis besar digolongkan menjadi 3, yaitu:

  1. Proses penyesuaian tubuh, dimana tubuh menyesuaikan sistem metabolisme untuk bisa memanfaatkan pengobatan yang diberikan. Reaksi yang mungkin muncul berbeda-beda pada tiap individu, misal: pusing, mual, sakit perut.
  2. Proses detoksifikasi, dimana tubuh mengeluarkan racun atau zat-zat berbahaya dari dalam tubuh ketika/setelah menerima pengobatan. Reaksi yang mungkin muncul: batuk-batuk, pilek, demam, gatal-gatal, borok, banyak mengeluarkan keringat, sering buang air kecil dan besar.
  3. Proses regenerasi, dimana setelah menerima pengobatan, tubuh menganti sel-sel lama dengan  sel-sel baru untuk memperbaiki sel, jaringan atau organ yang telah rusak. Reaksi yang mungkin muncul: rasa sakit pada bagian tubuh tertentu, kulit pecah-pecah, badan lemas, demam, dll.

Proses penyembuhan yang terkadang menimbulkan reaksi tidak nyaman di atas, harus dialami oleh tubuh supaya tubuh bisa mengalami kesembuhan. Jika Anda merasakan reaksi tidak mengenakkan setelah menggunakan pengobatan alternatif, dan kemudian Anda menghentikan pengobatan yang diberikan, itu sama saja dengan menghentikan proses penyembuhan.

Suatu reaksi bisa dikatakan merupakan suatu efek samping (tubuh menolak pengobatan yang diberikan) apabila setelah melewati 3 hari, kondisi penderita MAKIN BERTAMBAH PARAH pada saat pengobatan diteruskan. Reaksi-reaksi negatif ini biasanya terlihat langsung pada saat penderita mengonsumsi obat-obatan kimia yang tidak cocok dengan tubuh. Dan inilah yang dialami oleh Ngatini pada saat itu (kulit jadi bersisik dan mengalami gangguan ginjal).

Lain halnya dengan reaksi “tidak nyaman” pada proses penyembuhan, tubuh akan merasa tidak nyaman pada awalnya, tapi kemudian tubuh menjadi makin membaik dan akhirnya sembuh total ketika meneruskan pengobatan yang diberikan. Reaksi-reaksi tidak nyaman ini TERKADANG (tidak selalu) muncul pada orang yang belum pernah atau belum biasa mengonsumsi suplemen yang memiliki kandungan gizi sangat tinggi.

Ingat! Jika Anda mengalami reaksi tidak nyaman seperti ini, kemudian menghentikan pengobatan, itu sama saja dengan menghentikan proses penyembuhan. Jadi teruskan pengobatan alami Anda supaya Anda bisa SEMBUH TOTAL. Tapi jika Anda tidak tahan dengan reaksi tidak nyaman yang ada, Anda bisa mengurangi setengah dari dosis sebelumnya.

Healindonesia, Dt Awan (Andreas Hermawan) – 22 Apr 2009



Tinggalkan Balasan